Pikiran Positif Meningkatkan Imunitas Tubuh

Ilustrasi--sumber foto www.gethealthystayhealthy.com

Acuantoday.com— Imunitas yang baik tercipta dari suasana hati. Menjaga pikiran tetap positif merupakan cara meningkatkan imunitas tubuh. Hal ini juga berlaku pada mereka yang terinfeksi Covid 19. Pasien dengan pikiran positif akan lebih mudah sembuh.

Dokter Debryna yang menjadi relawan tim dokter pertama di RS Darurat Covid 19 Wisma Atlet Kemayoran membenarkan hal tersebut. Sebagai dokter di RS Wisma Kemayoran dia melihat sendiri bagaimana pasien-pasien yang memiliki pikiran positif dapat sembuh dengan cepat.

“Imunitas yang baik itu akan tercipta dari suasana hati. Baru kali ini benar-benar melihat, kalau pasien yang pikirannya bisa positif, pasien yang bisa dibawa enjoy, itu beneran cepat banget sembuhnya. Bahkan gejalanya saja bisa hilang dengan cepat,” cerita Debryna dalam perbincangan yang dipandu oleh dipandu Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 dr Reisa Broto Asmoro.

Secara terus terang Debryna mengaku kalau sebelumnya orangtuanya tidak setuju dengan keinginannya menjadi relawam Covid 19. Namun dengan memberikan pemahaman bahwa yang ia lakukan untuk kemanusiaan dan memastikan keselamatan generasi penerus bangsa, orangtuanya pun akhirnya bisa memahami.

Terkait dengan pentingnya berpikir positif, Debryna menyampaikan pesan dari para tenaga medis, agar para penderita Covid-19 tetap semangat dan menanamkan pikiran positif selama menjalani perawatan. Sedang kepada masyarakat, ia juga berpesan agar melakukan protokok kesehatan dengan ketat dalam kesehariannya, ‘memakai masker, menjaga jarak’.

Hal yang sama juga diutarakan Kepala Perawat ICU RS dr Kanujoso Balikpapan Rustina Susanti. Ia harus mengenakan baju alat pelindung diri (APD) selama 8 jam sehari saat bertugas di ruang ICU. Meski demikian saat bertugas, ia tak lupa mengingatkan agar pasiennya berpikiran positif dan banyak tertawa agar suasana hati menjadi bahagia.

Tetapi kepada keluarganya, ia harus memberikan pemahaman pada anak-anaknya tentang tanggung jawab mulia yang diembannya. “Mungkin ini imunisasi alami buat kita semua. Yang penting kita semua jaga diri, pakai masker, minum vitamin dan makan teratur, istirahat, semoga kita dijaga oleh Allah SWT,” ia menceritakan.

Seperti halnya Debryna, Rustina juga bekerja secara ikhlas dan tidak mengharapkan imbalan. Namun ia mengaku mendapatkan insentif atau tunjangan dari pemerintah terhitung sejak Maret lalu. “Alhamdulillah menjadi imun, dan imun buat teman-teman penyemangat,” katanya.

Perjuangannya memerangi Covid-19 tidaklah mudah, ada pukulan berat yang sempat dirasakannya. Seorang teman sejawat sesama tenaga medis harus meninggal di ruang ICU tempatnya bertugas, karena terpapar Covid-19. “Ini benar-benar kaya terlibat drama, bikin lemas, di saat itu secara otomatis kami yang ada di ruang ICU lemas semuanya,” kenang Rustina.

Ia pun juga berpesan agar masyarakat tetap waspada dan menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Terutama 3M, memakai masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan.

“Takut boleh, tapi waspada wajib. Kalau takutnya berlebihan, imun kita jadi turun, akhirnya kita menurunkan daya tahan tubuh. Satu pesan saya, kalau ada yang masih tidak percaya, saya antar kita tur ke ruangan saya, saya perlihatkan orang yang sedang berjuang antara hidup dan mati,” pesan Rustina.

Setelah mendengar pengalaman para tenaga medis itu, dr Reisa yang memandu perbincangan itu memberikan apresiasinya. Ia berharap dengan suka duka pengalaman para tenaga medis yang bertugas di lapangan, masyarakat yang pesimis akan sadar bahaya Covid-19.

“Setelah kita menyimak perbincangan yang menyentuh hati tadi, kita harus menyadari bahwa garda terdepan untuk menghadapi Covid-19 justru adalah kita semua, masyarakat Indonesia yang benar-benar harus disiplin, melaksanakan 3M. Hanya dengan 3M kita mampu memutus mata rantai penyebaran,” Reisa kembali mengingatkan. ***dian

 

Comments

comments