Pimpinan MPR Harap Donor Darah Dijadikan Sebagai Gaya Hidup

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo saat menghadiri acara donor darah yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni SMAN 14 Jakarta dan PMI DKI Jakarta./Foto: istimewa

Pimpinan MPR Harap Donor Darah Dijadikan Sebagai Gaya Hidup

Acuantoday.com, Jakarta―Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengatakan, aksi kemanusiaan seperti donor darah tidak boleh berhenti, meski bangsa sedang dilanda pandemi Covid-19. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menegaskan mendonorkan darah di tengah pandemi Covid-19 tetap boleh dilakukan, selama mengikuti protokol kesehatan.

“Jangan sampai karena alasan pandemi Covid-19, malah tidak ada yang mau donor darah. Akibatnya stok darah di PMI menipis, menyebabkan banyak nyawa tidak tertolong akibat kekurangan darah,” kata Bambang Soesatyo usai melakukan donor darah bersama Ikatan Alumni SMAN 14 Jakarta dan Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta, Sabtu (13/12).

Mantan Ketua DPR RI ini menjelaskan, Indonesia membutuhkan setiap tahunnya stok darah sesuai standar WHO 5,1 juta kantong atau 2 persen dari jumlah penduduk. 

Saat ini hanya tersedia 4,1 juta kantong darah. Donor darah selain membantu saudara yang membutuhkan darah, donor darah juga memberikan banyak manfaat bagi si pendonor. PMI menerangkan, dengan melakukan donor darah, seseorang bisa mencegah potensi terjadinya stroke.

Manfaat lainnya, terang dia, antara lain membantu menurunkan berat badan, membantu membakar kalori, melindungi jantung, meningkatkan sel darah merah, meningkatkan kapasitas paru-paru dan ginjal, serta membantu meningkatkan kesehatan psikologis. 

“Melalui donor darah, kita bisa menjaga kesehatan dengan mudah, tanpa perlu mengeluarkan biaya,” jelasnya.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini, mengatakan, kebutuhan darah di DKI Jakarta sekitar 1.000 kantong per hari. 

Karena pandemi Covid-19 dan berkurangnya pendonor, stok darah di PMI terus menipis, bahkan pernah krisis karena hanya tersedia sekitar 300 kantong per hari. 

Untuk itu aksi donor darah harus terus digiatkan. Karena kasus kematian ibu dan anak di Indonesia 28 persennya karena pendarahan.

Tak hanya di DKI Jakarta, menurutnya, aksi donor darah juga harus digiatkan di skala nasional. Standar WHO, kebutuhan stok darah setidaknya harus 2 persen dari jumlah penduduk. 

Secara nasional, Indonesia setidaknya membutuhkan stok 5,1 juta kantong darah setiap tahunnya. 

“Sementara ketersediaan stok darah di PMI rata-rata baru mencapai 4,1 juta kantong per tahun. Sehingga masih belum memenuhi standar WHO. Karenanya dibutuhkan gotong royong dari warga untuk giat melakukan donor darah,” pungkasnya. (rht)

Comments

comments