PKL di Jalan KH Ahmad Dahlan Yogya Resah

Jalan KH Ahmad Dahlan Yogyakarta.(Foto : Chaidir)

Acuantoday.com, Yogyakarta- Setelah Jalan Malioboro dan Jalan Jenderal Sudirman dijadikan kawasan pedestrian, kini giliran Jalan KH Ahmad Dahlan yang berada disisi barat Titik Nol Yogyakarta juga akan dijadikan status yang sama.

Konsekuensi menjadi pedestrian, maka kawasan tersebut harus bersih dari pedagang kaki lima (PKL). Hal ini membuar resah PKL yang berada di daerah tersebut.

Warsidi, PKL di Jalan KH Ahmad Dahlan, ditemui koresponden Acuantoday.com merasa resah lantaran usaha angkringan yang sejak tahun 1994 harus angkat kaki dan pihak Pemerintah Kota Yogyakarta belum memberi kepastian terkait relokasi dagangannya.

“Tadi tiga orang Satpol PP memberitahu bahwa PKL tidak boleh dagang disini. Tapi sama sekali tidak memberitahu solusinya,” ujar Warsidi, Senin (21/12/2020).

Ia merasa pemerintah menambah beban para PKL. Sebab di masa pandemi kondisi usaha sedang susah, ditambah lagi akan digusur dan belum ada solusi yang diberikan.

Jalan KH Ahmad Dahlan (sisi barat Titik Nol Yogyakarta) yang akan dijadikan pedestrian harus bersih PKL.

Menurut Warsidi, seharusnya Walikota Yogyakarta yang saat ini harus belajar dari Walikota Yogyakarta sebelumnya, yaitu Hery Zudianto, saat akan menggusur para PKL sudan menyediakan tempat baru.

“Dulu Pak Hery membangun penampungan dulu, setelah itu PKL dipindahkan ke tempat Pasar Klithikan di Wirobrajan. Beda dengan sekarang tidak ada solusinya,” tambahnya.

Dikatakan, informasi yang disampaikan pihak Satpol PP bahwa para PKL akan dipanggil oleh kecamatan untuk diberitahu selanjutnya.

Seperti diketahui, Pemkot Yogyakarta menegaskan bahwa pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Jalan KH Ahmad Dahlan harus pindah ketika revitalisasi pedestrian selesai. Sejauh ini, jajaran eksekutif masih mencarikan solusi terbaik untuk para PKL.

Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti mengatakan, dalam setiap proses penataan, pihaknya selalu mengedepankan komunikasi dengan masyarakat terdampak. Sehingga, ia berharap, apa yang dilakukan oleh pemerintah ini bisa dimengerti, karena demi kebaikan bersama.

“Kami selalu berkomunikasi dengan para pedagang yang menggunakan trotoar untuk lapak dagangannya itu. Saya tidak mengusir mereka ya, tapi nanti akan ada solusinya, dipindahkan kemana lah,” tandas Haryadi.

Ia berharap, PKL Jalan KHA Dahlan bisa berbesar hati dan bersedia direlokasi menuju tempat lain yang tengah disiapkan oleh pemerintah. Terlebih, pada dasarnya, proyek revitalisasi tersebut, bertujuan untuk mengembalikan trotoar sesuai kegunaannya.

“Makanya, jangan ada upaya-upaya untuk bertahan di sana. Pedestrian itu kan bukan lapak. Jelas, fungsinya itu untuk pejalan kaki, bukan tempat jualan,” katanya.

“Apalagi, konsep kita ini kan penataan, bukan penggusuran. Sing penting ono rembuge. Kita ajak komunikasi masyarakat, ini kuthomu juga loh, masak mau kemproh terus seperti ini,” tambahnya. Haryadi pun memastikan bakal mencari solusi terbaik bagi PKL di Jalan KHA Dahlan.

Menurutnya, bisa saja pemerintah memindahkan mereka menuju pasar tradisional terdekat, atau membuatkan satu tempat khusus, sehingga para pedagang tetap bisa menjalankan aktivitasnya.

“Tentu nanti kita berikan solusi, dimana dagangnya. Rezeki kan bukan hanya di situ. Yakin atau tidak, itu tergantung usaha mereka bagaimana kedepan,” jelasnya.

Ia pun menyatakan, kesuksesan Pemkot dalam menata parkiran di sebelah timur Malioboro bisa dijadikan contoh.

Menurutnya, hal tersebut dapat terealisasi karena warga masyarakat yang beraktivitas disana bersedia menaati konsep penataan yang diupayakan pemerintah. Ketika parkir bisa ditata, lanjutnya, maka PKL seharusnya juga bisa.

Bukan tanpa sebab, sebelumnya, Pemkot sudah berhasil memindahkan para pedagang di pedestrian Jalan Jenderal Sudirman, ketika proyek revitalisasi pedestrian tahap pertama rampung beberapa waktu lalu.

“Gondolayu ke barat itu semua bersedia. Sebelumnya, dari Gramedia ke barat juga. Banyak pedagang yang memilih untuk menghindari konflik. Saling menghargai ya, dan menghormati solusi terbaik dari kami,” cetusnya.

“Kapan kota kita jadi bagus, indah, bersih, nyaman, kalau masalah-masalah klasik selalu jadi kendala, dalam proses penataan. Sekali lagi, kita tidak bermaksud melakukan penggusuran, tapi penataan ya,” imbuh Haryadi.
(Chaidir)

Comments

comments