Polemik Populisme Islam Dua Kader NU Tantang Fadli Zon

Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Fadli Zon. (Foto : Hardianto/Acuantoday.com)

Acuantoday.com, Jakarta- Pernyataan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas yang akan memerangi populisme Islam berbuntut panjang, setelah pernyataan tersebut disanggah dengan serius oleh Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Fadli Zon, yang meminta berdebat dengan Yaqut terkait bahaya populisme Islam.

Tantangan Fadli Zon kepada Yaqut ini lantas ditanggapi oleh dua tokoh Nahdatul Ulama (NU), yakni Zuhairi Miswari dan Umar Syadat Hasibuan.

Zuhairi Miswari tidak terima dengan sikap Fadli Zon yang menantang Yaqut untuk berdebat soal bahaya populisme Islam, dan dirinya kembali menantang Fadli Zon untuk berdebat sebagai pengganti Yaqut, karena dirinya bersama Yaqut sama-sama kader NU.

“Soal Bahaya Populisme Islam, saya siap berdebat dengan Fadli Zon. Saya sebagai kader NU, seperti Menag yang kader NU punya kegelisahan yang sama,” kata Zuhari Miswari, Rabu (30/12).

Lanjut Zuhari, alasan dirinya menggantikan posisi Yaqut untuk berdebat, agar Yaqut fokus untuk bekerja. “Biar Menag fokus mengabdi pada negeri, cukup kader NU saja yang melayani tantangan debat Fadli Zon. Bisa gelar di FISIP UIN Jakarta,” ucapnya.

Sementara itu, Umar Syadat Hasibuan mengatakan, populisme Islam tidak berbahaya. Dia siap menerima tantangan Zuhari untuk berdebat menggantikan Fadli Zon. Menurutnya, biar Fadli Zon fokus bekerja untuk rakyat.

“Soal Populisme Islam itu tidak berbahaya, saya siap berdebat dengan anda Zuhairi. Saya sebagai kader NU dan warga Indonesia tak punya kegelisahan dengan populisme islam . Biar Fadli Zon fokus mengabdi pada negeri. Cukup saya saja yang ladenin anda bisa digelar di Kantor PBNU. Ayo buka blockmu,” kata Hasibuan.

Sebelumnya, Menag Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, pihaknya tidak akan membiarkan populisme Islam berkembang di Indonesia. Populisme merupakan usaha untuk menggiring agama menjadi norma konflik.

“Agama dijadikan norma konflik itu dalam bahas ekstremnya, siapapun yang berbeda keyakinannya, maka dia dianggap musuh dan karenanya harus diperangi. Istilah kerennya itu populisme islam,” ujar Gus Yaqut dalam sebuah acara webinar lintas agama, Ahad (27/12) kemarin. (rht)

Comments

comments