Polisi Periksa CCTV dan Sidik Jari di Insiden Kebakaran Kejagung

Monumen R. Soeprapto (Bapak Korps Kejaksaan) masih tegak berdiri. Kebakaran Kejaksaan Agung pada 22 Agustus lalu berbuntut pada dugaan pidana. Polisi tengah memburu pelaku./Foto: Acuantoday.com (Rohman Wibowo)

Acuantoday.com, Jakarta―Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Awi Setiyono mengatakan, penyidik mulai menjaring barang bukti, terutama di lantai 6, yang diyakini menjadi sumber api berkobar pada insiden kebakaran gedung Kejaksaan Agung (Kejagung), beberapa waktu lalu.

“Penyidik melakukan pemeriksaan laboratorium digital forensik barang bukti berupa kamera pemantau mesin absensi di lobi gedung utama Kejagung. Dan hari ini diperiksa laboratoris DNA dan sidik jari terhadap barang bukti yang ditemukan,” tutur Awi di Bareskrim Polri, Selasa (6/10).

Agenda lain penyidik, tambah Awi, saat ini tengah melaksanakan rapat analisis dan evaluasi (Anev) terkait hasil pemeriksaan ahli, mulai dari saksi ahli kebakaran, bangunan hingga pidana, yang diperiksa dalam beberapa pekan belakangan. 

“Tambahan saksi ahli ada dari Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan,” ucap Awi. 

Ia menegaskan, pemeriksaan saksi ahli bukan satu-satunya petunjuk yang menjadi rujukan penyidik menyimpulkan dugaan pidana dalam insiden kebakaran pada 22 Agustus itu. 

“Saksi potensial tetap yang kami jaring dari 131 saksi yang sudah ada. Kan sebelumnya sudah banyak juga saksi dari kalangan internal Kejagung,” ujarnya. 

Sejauh ini, sudah ada dua pejabat tinggi Kejagung yang dikorek keterangannya oleh penyidik.

Mereka adalah Kasubag Pam Info atau Kepala Sub Direktorat Pengamanan informasi dan Kasubag Produksi atau Kepala Sub Direktorat Produksi Intelijen berperan dalam melaksanakan  penyiapan perumusan  kebijakan, kegiatan intelijen dan operasi intelijen. 

Penyidikan insiden kebakaran ini menuai atensi publik, seiring beredar spekulasi adanya upaya sabotase terhadap kasus-kasu korupsi besar yang tengah ditangani Kejagung. 

Mulai dari kasus suap Jaksa Pinangki, yang melibatkan koruptor kelas kakap Djoko Tjandra hingga kasus korupsi berjamaah di perusahaan milik negara (Jiwasraya). (rwo)

Comments

comments