Polisi Tangkap 18 Pendemo, Diduga dari Gerakan Anarko

Ilustrasi-Penjagaan di depan gedung DPR/MPR./Foto: Antara

Acuantoday.com, Jakarta―Personel Polda Metro Jaya menangkap 18 pendemo berpakaian serba hitam di depan Gedung DPR/RI. Mereka diduga dari gerakan Anarko yang ikut bersolidaritas menolak UU Cipta Kerja.

“Kami amankan 18 orang kemarin (Selasa, 6/10). Biasa lah itu mereka yang pakai baju hitam-hitam, ada indikasi ke sana (gerakan Anarko),” ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Yusri Yunus kepada Acuantoday.com, Rabu (7/10).

Dari hasil pemeriksaan, Yusri menerangkan, pendemo yang diduga dari gerakan Anarko ini ingin membikin keributan di depan gedung parlemen dengan memanfaatkan momen penolakan dari berbagai elemen masyarakat dan buruh menyoal pengesahan UU Ciptaker.

Menurut Yusri, gerombolan ini mendatangi Senayan karena pesan berantai di media sosial. “Mereka dapat info dari WA, ada keributan di DPR, mereka mau bikin keributan di depan DPR,” jelasnya.

Yusri menuturkan, gerakan mereka tak ada sangkut-pautnya dengan gerakan buruh, sebab didapati pendemo yang masih berstatus pelajar SMA.

“Anak-anak tanggung, ada juga preman, ada yang putus sekolah, dan ada juga anak SMA,” katanya.

Kendati begitu, polisi tidak menemukan barang pendukung yang biasa dipakai untuk berdemo, semisal bom molotov.

“Kita amankan, kita data dan sudah kita pulangkan,” tutur Yusri.

Sebelumnya, gelombang aksi massa dari elemen buruh dan masyarakat menentang RUU Cipta Kerja direncanakan berlangsung 6-8 Oktober. Tanggal itu dipilih untuk mengejar momen pengesehan produk hukum itu menjadi UU seutuhnya oleh DPR.

Namun, sebelum aksi massa bergulir, para wakil rakyat mengesahkan UU Cipta Kerja pada 5 Oktober.

Di samping itu, gerakan buruh akan diredam oleh pihak kepolisian, seiring terbitnya keputusan dari Kapolri Idham Azis yang melarang unjuk rasa selama masa pandemi COVID-19. (rwo)

Comments

comments