Polisi Tetapkan Tiga Terangka Baru di Insiden Kebakaran Kejagung

Monumen R. Soeprapto (Bapak Korps Kejaksaan) masih tegak berdiri. Kebakaran Kejaksaan Agung pada 22 Agustus lalu berbuntut pada dugaan pidana. Polisi tengah memburu pelaku./Foto: Acuantoday.com (Rohman Wibowo)

Acuantoday.com, Jakarta―Bareskrim Polri menetapkan tiga tersangka baru dalam insiden kebakaran Gedung Kejaksaan Agung (Kejagung).

Ketiga tersangka itu berinisial MD, J dan IS. Keterlibatan mereka terungkap setelah polisi melakukan penyidikan dalam 20 hari terakhir.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Ferdy Sambo usai digelar perkara, Jumat (13/11), mengatakan, semua tersangka awalnya berstatus saksi, sebelum akhirnya polisi menyimpulkan keterangan dari ahli kebakaran Universitas Indonesia dan Puslabfor Polri.

Menurut Sambodo, karena tindakan merekah alh kobaran api menjalar cepat dari lantai 6 (awal api menyala) ke seluruh gedung utama Kejagung.

Dimulai dari tersangka MD, yang ternyata berperan penting dalam pengadaan minyak lobi merek Top Cleaner berbahan zat mudah terbakar itu.

Hal ini terungkap setelah tersangka awal (R), selaku direktur PT APM yang awalnya diduga memproduksi minyak itu, mengungkapkan bahwa MD yang melaksanakan seluruh kegiatan pengadaan alat pembersih di Kejagung.

“Perusahaan PT APM ini hanya meminjam bendera, sehingga proses pengkajian, kemudian pembelian seluruh alat kebersihan yang digunakan di gedung Kejagung itu yang kemudian menjadi salah satu akseleran dari terbakarnya gedung Kejagung, adalah tersangka MD,” kata Sambo.

Dua tersangka lain J dan IS, dikatakan Sambo, berperan dalam pengadaan bahan kedua, selain minyak lobi, yang menjadi akseleran atau pengantar api menjalar cepat.

Akseleran itu material dinding gedung di Kejagung, yang ternyata berbahan Alumunium Composite Panel (ACP).

Ide pengadaan berbahan ACP itu tidak didasari pengetahuan yang utuh, karena pada dasarnya model ACP ini terbagi dua, ada yang mudah terbakar dan akan terbakar pada suhu tertentu.

Tersangka IS, yang diketahui sebagai mantan PNS Kejagung ini berperan dalam pemilihan konsultan perencana pembangunan gedung.

“IS dalam memilih konsultan perencana tidak sesuai dengan ketentuan, memilih konsultan perencana yang tidak berpengalaman, kemudian tidak melakukan pengecekan bahan bahan yang akan digunakan, khususnya ACP ini,” ungkap Sambo.

Setali tiga uang, tersangka J selaku konsultan dianggap juga tidak memiliki pengetahuan maupun pengalaman terkait penggunaan bahan ACP dalam pembangunan gedung.

“Konsultan perencana yang ditunjuk tidak memiliki perencanaan, tidak memilki pengetahuan tentang ACP, kemudian memililh ACP yang tidak sesuai standar sehingga menyebabkan kebakaran yang merata,” katanya.

Terhadap semua tersangka baru, kepolisian mengenakan sangkaan kelalaian, sebagaimana Pasal 188 KUHP Jo Pasal 55 KUHP dengan ancaman di atas lima tahun penjara.

Semua tersangka kini belum ditahan, menyusul penyidik baru melakukan proses pemangilan guna pemeriksaan. (rwo)

Comments

comments