Polri Akui Campur Tangan Aparat dalam Pembunuhan Intan Jaya

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Pol Awi Setiyono./Antara

Acuantoday.com, Jakarta-Polri mengakui hasil temuan investigasi tim gabungan pencari fakta (TGPF) atas insiden pembunuhan yang menewaskan Pendeta Yeremia Zanambani, sesuai dengan hasil penyelidikan kepolisian.

“Apa yang menjadi temuan beliau (TGPF) selaras dengan apa yang kami kerjakan di lapangan. Tentu itu jadi penguatan kami dan jadi masukan bagi Polri, khususnya penyidik, untuk menuntaskan kasus tersebut,” kata Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Awi Setiyono dalam jumpa pers di Bareskrim, Kamis (21/10).

Apa yang diakui Polri, terlihat bertolak belakang dengan klaim kepolisian daerah Papua yang dirilis ke media tak lama setelah momen pembunuhan pendeta Yeremia. Ketika itu, polisi menuding pelaku pembunuhan adalah mereka yang tergabung dalam kelompok bersenjata atau Tentara Nasional Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM).

Peristiwa penembakan Yeremia sendiri bermula dari penyisiran anggota TNI di Distrik Hitadipa pada 19 September lalu. Saat itu, TNI berniat mencari pembunuh Pratu Dwi Akbar Utomo dari Yonif 711/RKS/Brigif 22/OTA, yang disebut dibunuh anggota TPNPB-OPM. TNI menuding warga setempat menyembunyikan pembunuh Pratu Dwi.

Namun pada saat bersamaan, Pendeta Yeremia ditemukan tewas dengan luka tembakan dan senjata tajam. Laporan Amnesty Internasional Indonesia mengungkap bahwa aparat yang menjadi pelaku penembakan, seiring adanya saksi mata dari warga setempat yang melihat kejadian tersebut.

Pada 21 Oktober, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Hak Asasi Manusia, Mahfud MD mengumumkan hasil TGPF, di antaranya berkaitan terduga pelaku pembunuhan Yeremia diduga dilakukan oleh aparat. Ia juga menegaskan kemungkinan pelaku pihak ketiga, kendati tak merujuk ke kelompok mana pun.

Hasil investigasi pun mengungkapkan tiga orang tewas (selain Yeremia) dalam insiden penembakan, dua tentara dan satu warga sipil, dengan terduga pelakunya dari kelompok bersenjata. Ketiga korban yakni yakni Serka Sahlan dan Pratu Dwi Akbar Utomo dan satu sipil, Badawi. Sahlan dan Badawi dibunuh pada tanggal 17 September, sementara Dwi pada 19 September 2020.(rwo)

Comments

comments