Polri Persilahkan Habib Rizieq Balik ke Indonesia

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab. /Foto : Antara

Acuantoday.com, Jakarta- Polri merespons santai isu rencana kepulangan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab. Sampai sekarang, belum ada rencana khusus mengantisipasi dampak kepulangan pentolan Front Pembela Islam itu ke tanah air.

“Ya, kalau pulang silakan saja. Tidak ada pengamanan,” ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Awi Setiyono saat jumpa pers di Bareskrim Polri, Selasa (17/10/2020).

Menyoal pengusutan perkara-perkara yang menimpa Rizieq, semisal dugaan makar atau pesan pornografi, Awi bilang polisi akan mengecek terlebih dahulu ke jajaran yang menangani kasus itu.

Isu rencana kepulangan Rizieq kadung tersebar di media sosial. Dalam video berdurasi 1 menit 31 detik, ia mengungkapkan akan kembali ke Indonesia dalam waktu dekat.

“Insya Allah dalam waktu dekat ini tidak lama lagi saya sekeluarga akan kembali ke Indonesia, akan pulang ke tanah air dan kembali berjuang bersama umat Islam di kamu punya negeri tercinta,” ucap dia.

Dalam video itu juga, Rizieq mengemukakan alasan pulangnya, karena melihat kondisi Indonesia yang tengah memprihatinkan meski tidak merinci maksudnya. “Maka Indonesia, membutuhkan kepedulian dari seluruh masyarakat,” ujarnya.

Isu kepulangan Rizieq bukan kali pertama terdengar, teranyar disampaikan Ketua Umum DPP FPI Ahmad Shabri Lubis dalam aksi menolak UU Cipta Kerja di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (13/10).

Saat itu, dia di atas mobil komando mengumumkan Rizieq akan pulang “untuk memimpin revolusi”.

Belakangan, dalam surat pernyataan DPP FPI yang ditandatangani Ahmad Shabri Lubis dan Sekretaris Umum DPP FPI Munarman, mengklaim bahwa Rizieq bisa kembali ke Tanah Air, seiring pencekalan resmi dicabut.

Dalam surat itu juga disebutkan dibebaskan dari segala denda, setelah sebelumnya diwajibkan membayar kelebihan waktu menetap sejak 20 Juli 2018 senilai 30 ribu riyal atau kira-kira Rp117 juta di tempat pelariannya, Arab Saudi.(rwo)

Comments

comments