PSBB Jilid II Diberlakukan, Nasib Getir Supir Angkot Bakal Berlanjut

Dadang (kiri) dan Andre (kanan) merupakan segelintir potret sopir angkot di Jakarta yang nelangsa karena wabah pandemi dan kebijakan PSBB ./Foto: Acuantoday.com (Rohman Wibowo)

Acuantoday.com, Jakarta – Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara total yang bakal diberlakukan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tanggal 14 September nanti secara langsung akan menurunkan mobilitas orang di luar rumah. Dampak langsungnya yang akan dirasakan adalah sektor transportasi.

Aturan PSBB total, tak pelak membuat pendapatan sopir jadi menyusut.

Sulit mendapat penumpang kala PSBB total di periode awal sudah dialami Andre. Pria 23 tahun ini terpaksa menelan pil pahit pendapatannya menurun drastis.

Sebelum pandemi COVID-19 melanda, ia biasa membawa pulang penghasilan sekira Rp400-450 ribu. Uang itu dibagi lagi untuk beberapa keperluan, seperti membayar kewajiban setoran sebesar Rp150 ribu dan biaya solar Rp100 ribu. Sisanya, menjadi cuan yang masuk kantong.

Namun, ketika PSBB total periode awal sedang giat-giatnya diberlakukan, pendapatan yang didapat melorot jadi Rp50 ribu.

“Narik angkot dapat Rp300 ribu aja udah bagus itu,” kata sopir angkot trayek Kampung Melayu-Gandaria itu kepada wartwan Acuantoday.com, Sabtu (12/9).

Penghasilan yang tak seberapa itu dirasa Andre tak cukup menahan beban hidup. Sebab, ia mesti membayar sewa rumah dan menafkahi istri yang tengah hamil tua.

“Istri lagi hamil delapan bulan. Pusing nanti bayar lahiran gimana,” keluhnya.

Menyiasati beban hidup, ia mesti menambah waktu kerja dari sebelumnya. Bila biasanya pulang pada sore hari, kini ia mesti narik lagi hingga larut malam.

Pendapatannya pun naik Rp50 ribu, tapi tampaknya itu tak berlaku mulai pekan depan, seiring penerapan PSBB total.

“Wah ini kayanya bakal kering lagi nih kayak di awal (PSBB total April-awal Juni),” ujarnya.

Cerita pilu juga datang dari Dadang. Pandemi yang memaksa penerapan PSBB telah merenggut kebahagian keluarganya. Dampak penghasilan menurun, membuat sang istri menggugat cerai dirinya.

“Sama bini udah kacau. Udah cerai dari 4 bulan lalu gara-gara faktor ekonomi,” ungkap pria paruh baya itu.

Selepas bercerai, ia tinggalkan rumah dan sudah berbulan-bulan menumpang tidur di kolong jembatan layang Pasar Rebo.

Dadang dan Andre merupakan segelintir potret masyarakat yang rentan secara ekonomi di tengah pandemi dan penerapan PSBB. Parahnya, kesulitan ekonomi tak kunjung mereda barang sedikit waktu karena mereka belum tersentuh bantuan sosial dari pemerintah.

“Demi Allah, saya belum pernah dapat bansos apapun,” ucap Dadang.

Semestinya, mereka berhak mendapat bansos dari tiga arah: Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, Kementerian Sosial dan Polda Metro Jaya.

Bantuan dari Pemprov DKI berupa paket sembako senilai Rp149 ribu, yang telah didistribusikan sejak 9 April lalu. Kemudian, bansos dari Kemensos senilai Rp300 ribu dan uang tunai sebesar Rp600 ribu bersumber dari Polda Metro Jaya. (rwo)

Comments

comments