Pukulan Telak Kedua Bisnis Kuliner

Ilustrasi-Kupi+Ruti./Foto: Antara

Acuantoday.com, Jakarta – Bisnis kuliner yang mulai dapat bernafas, kini harus menerima pukulan telak untuk kedua kalinya. Kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang mengembalikan kondisi Jakarta seperti tahap-tahap awal dengan PSBB total, membuat pengusaha terkejut.

“Kaget sih. Untuk gue yang usaha kuliner, ada dua sumber pemasukan, delivery dan dine in. Otomatis PSBB cut dine in, kita lipat bangku, meja enggak bisa dipakai,” kata Achmad Pratama alias Toma, bassist band Mocca, Sabtu (12/9).

Melalui Kedai Gelojoh yang dibangunnya, Toma menyajikan olahan daging kambing dan nasi goreng rempah. Ia kini memusatkan perhatian untuk menyiapkan layanan pesan antar yang jadi andalan selama masa PSBB.

Sementara itu, Natasha, Co-Owner Kupi+Ruti & For Good Juicery, dan Ilham Dwi, Pemilik Qala Coffee & Herbs tak kalah terkejut dengan keputusan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menarik “rem darurat”.

“Sebagai pelaku F&B, cukup shock,” ungkap Natasha, seperti dilansir Antara.

Ini bisa dimaklumi karena menurut pengakuan Natasha, ia baru saja akan membuka cabang baru lagi dalam waktu dekat. Dengan kebijakan PSBB total ini, Natasha bingung sebaiknya langkah apa yang akan diambil.

Di lain pihak, Ilham menyadari keputusan ini memang diambil untuk kepentingan bersama, namun dia tetap menghadapi kenyataan mengatur keuangan yang terancam menurun.

“Sudah pusing mengatur cashflow di toko, belum balik 100 persen sudah drop lagi,” tutur Ilham.

Para karyawan yang sudah mulai bersemangat dan terbiasa bekerja di masa adaptasi kebiasaan baru akan kembali was-was memikirkan kelangsungan mereka bila pemasukan toko berkurang selama PSBB Jakarta Jilid II.

“Saya sih sebisa mungkin memenuhi semua hak mereka, tapi sampai kapan kita sanggup bertahan?”

Lain lagi Tiana Talatas, yang memiliki kedai crepes dan waffle di food court Kantin Tuju Tuju, Bangka, Jakarta hanya bisa berpasrah diri.

“Sudah pasrah sih, soalnya dari pemerintah juga enggak ada kejelasan.”

Setelah masa adaptasi kebiasaan baru, penjualannya belum kembali normal karena pembelinya sebagian besar anak sekolah yang saat ini masih belajar dari rumah.

“Ditambah ada patroli Satpol PP, jadi kalau ada konsumen yang makan di tempat, sering kena tegur,” keluh dia. (ahm)

Comments

comments