Rampung Vaksinasi Guru, Pemerintah Targetkan PTM Mulai Bulan Juli

Ilustrasi pembelajaran tatap muka---foto KPAI

Acuantoday.com, Jakarta- Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, bulan Juni 2021 besok vaksinasi kepada tenaga guru di seluruh Indonesia selesai, hingga proses Pembelajaran Tatap Muka (PTM) bisa dibuka kembali.

Selain itu, Menkes juga mengakui telah berkoordinasi dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nadiem Makarim terkait PTM pada bulan Juli nanti.

“Salah satu target kita sampai bulan Juni adalah seluruh guru akan kita vaksinasi, pembicaraan kami dengan pak Nadiem mungkin ada rencana untuk di buk bulan Juli,” kata Menkes Budi saat Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR RI, Senin (15/3).

Meski begitu, Kemenkes menunggu persetujuan para dewan guru dan orang tua siswa-siswi terkait PTM, karena mereka yang mengetahui kondisi saat belajar tatap muka berlangsung.

“Itu masin opsion, tergantung orang tua apakah mereka mau mengirimkan muridnya ke sekolah, kalau tidak mereka bisa belajar secara daring,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda mengatakan, PTM merupakan momentum anak-anak atau siswa mendapatkan suasana belajar di sekolahnya lagi.

“Kalau tidak secepatnya mereka kembali ke sekolah, saya membayangkan presentasi anak putus sekolah karena enggak mau lagi sekolah karena sudah menikmati dapat duit, karena bantu kerja orang tuanya. Persentasenya bisa sampai 70 persen, dari anak-anak yang memang kemampuan keuangan orang tuanya yang lagi kesulitan, yang sudah beralih profesi itu,” kata Syaiful Huda di Gedung DPR RI, Senin (15/3).

Menurut Syaiful Huda, saat ini para pelajar tengah dalam masalah psikologis. Mereka kebanyakan sudah tidak merasa menjadi siswa atau pelajar lagi.

“Saya beberapa kali kunjungan di atas nama komisi X dengan teman-teman di komisi X , mengafirmasi ini semuanya, jadi banyaknya anak yang tidak merasa menjadi pelajar,” ucapnya.

Di sisi lain, tidak berlangsungnya PTM juga membuat banyak aksi kriminal terjadi di beberapa daerah yang pelakunya kebanyakan adalah para pelajar.

“Salah satu yang berkontribusi terjadinya tawuran di mana-mana, banyaknya aksi kriminalisasi di beberapa daerah, itu pelakunya adalah pelajar pelajar kita. Karena apa , karena mereka sudah merasa, ya sudah tidak sekolah hampir setahun setengah,” ujar politisi PKB ini.

Huda menambahkan, pembelajaran jarak jauh juga tidak efektif. Sebab, tidak semua siswa mampu dan memiliki telepon genggam (Handphone). Situasi tersebut menyebabkan para siswa jadi belajar secara bergerombol di suatu tempat.

“Ini juga fakta, lalu terjadi hubungan yang sifatnya intim, dengan sesama siswa dan akhirnya terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, faktanya banyak, sangat amat banyak terkait dengan ini. Ini perlu ada penanganan serius terkait dengan ini, sampai sejauh itu efek dari setahun setengah kita tidak kembali ke sekolah ini,” pungkasnya. (rht)

Comments

comments