Regulasi Dinilai Membatasi, Investasi Asing Sektor Pertanian Tertutup

Tumpukan buah jeruk yang sedang dipajang./Foto: Acuantoday.com (Ahmadi Supriyanto)

Acuantoday.com, Jakarta―Investasi asing (Foreign Direct Investment/FDI) di sektor pertanian dinilai masih relatif tertutup karena sejumlah regulasi yang dinilai membatasi.

Berdasarkan data Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), indeks ketertutupan Indonesia terhadap investasi di sektor pertanian berada di angka 0,389, dari skala 0 (terbuka) hingga 1 (tertutup).

Data OECD juga menunjukkan, tingkat ketertutupan terhadap Penanaman Modal Asing (PMA), khususnya pada sektor pertanian atau agrikultur, semakin meningkat, yakni dari 0,294 pada 1997 menjadi 0,364 pada 2018.

Salah satu regulasi yang dinilai menghambat yakni pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2020 tentang Hortikultura.

“UU Nomor 13 Tahun 2010 yang diperjelas dengan PP 44/2016, membatasi kepemilikan asing hanya 30 persen, termasuk pada pembibitan, jasa, hingga pariwisata yang berhubungan dengan hortikultura,” kata Peneliti Center for Indonesia Policy Studies (CIPS) Donny Pasaribu dalam webinar yang diselenggarakan CIPS, Selasa (3/11).

Donny menjelaskan dampak dari investasi asing yang restriktif atau tertutup dapat membuat produsen pertanian domestik, khususnya hortikultura, kehilangan akses terhadap bibit yang berkualitas.

Di sisi lain, produsen bibit skala global hanya sedikit. Setidaknya 60 persen produksi bibit di seluruh dunia, dikuasai oleh 3 perusahaan multinasional skala global. Oleh sebab itu, penanaman modal asing diperlukan, mengingat pasar bibit yang sangat terkonsentrasi.

Selain itu pembatasan investasi asing juga akan berdampak pada kegiatan riset dan litbang bagi produsen bibit domestik untuk mempelajari cara berinovasi menghasilkan bibit berkualitas.

“Kalau kita ingin meningkatkan produktivitas, meningkatkan kualitas produk, sangat membutuhkan akses bibit ini,” kata Donny.

Menurut dia, relaksasi PMA di sektor pertanian dalam Undang-Undang Cipta Kerja idealnya dapat dimanfaatkan untuk peningkatan produktivitas, salah satunya komoditas hortikultura.

Konsumsi produk ini di dalam negeri cukup tinggi dan Indonesia juga punya kesempatan untuk meningkatkan produktivitas dan nilai ekspor komoditas yang didukung melalui penggunaan teknologi pertanian yang efisien dan lebih modern.

Ada pun konsumsi domestik produk hortikultura cukup tinggi dan selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Data BPS 2019 menunjukkan konsumsi bawang putih oleh rumah tangga di Indonesia di tahun 2019 mencapai 484.000 ton.

Sementara itu ekspor bawang putih untuk tahun 2019 tumbuh 71,76 persen dibandingkan dengan tahun 2018. Angka ini termasuk sangat pesat dibandingkan dengan pertumbuhan impor di angka 7,76 persen, berdasarkan data BPS. (ahm)

Comments

comments