Respon Permintaan Ekspor, Gravfarm Indonesia Siapkan 56 Hektare Lahan Untuk Produksi Kopi Specialty

Acuantoday.com, Bandung – Permintaan kopi specialty di pasar internasional cukup tinggi. Tetapi Indonesia belum mampu memenuhi permintaan tersebut karena standar kopi specialty antara lain tidak boleh mengandung kimia.

“Pemasalahannya, saat ini perkebunan kopi di Indonesia  99 persen masih menggunakan pupuk kimia untuk meningkatkan produksi buah kopi,” kata  Founder PT Gravfarm Indonesia, Lucy Tedjasukmana, Selasa (2/3).

Gravfarm Indonesia adalah salah satu produsen kopi di Jawa Barat yang memasarkan produknya hingga ke mancanegara. Lucy menuturkan,  industri kopi di Indonesia tertekan akibat harga kopi merosot, dua tahun terakhir ini. Ia mencontohkan, pada 2019,  harga red cherry atau biji kopi merah di level petani berkisar Rp8000-Rp9000 per kg, pada tahun 2020 anjlok menjadi Rp5000 per kg.

Menurut Lucy, kondisi perkopian Indonesia diperparah dengan terjadinya pandemi covid-19 yang  menyebabkan permintaan kopi dari Eropa turun drastis. “Karena banyak negara di Eropa menerapkan lockdown. Akibatnya semua kafe tutup,” katanya.

Memasuki 2021, ketika mulai dilakukan vaksinasi covid-19, pintu perdagangan antara negara kembali di buka. Jawa Barat mengekspor perdana kopi specialty sebanyak 6 ton ke Hamburg, Jerman pada 24 Februari lalu. Kopi tersebut adalah produk PT Gravfarm Indonesia dan Rimbun Jaya Abadi yang dikelola oleh Setra Yuhana .

“Ekspor perdana di tengah pandemi ini ibarat pecah telor setelah sebelumnya kopi Indonesia berhenti ekspor sejak wabah covid-19,” kata Lucy.

Dia menjelaskan, sebenarya ada permintaan kopi specialty dari Jerman sebanyak satu container kopi specialty  isi 18 ton. Namun permintaan itu  tak dapat dipenuhi karena produktivitas kopi specialty yang masih rendah.

“Kita masih memiliki banyak hambatan dalam memproduksi kopi specialty,  antara lain  kopi tidak boleh mengandung bahan (pupuk) kimia,” ujar Lucy.

Merespon tingginya permintaan kopi specialty dari pasar internasional, sejak tiga tahun lalu Lucy menyiapkan lahan seluas 56 hektare di Kabupaten Bandung untuk menanam kopi organik. Ia pun melakukan edukasi kepada para petani terkait penggunaan pupuk non kimia.

“Tidak lama lagi kami akan panen pertama di lahan itu, ” kata Lucy yang memiliki ratusan orang petani binaan dari Kelompok Tani Hutan (KTH) itu. (Eni Saeni)

Comments

comments