Rizieq Jadi Tersangka Kasus Kerumunan di Petamburan

Habib Rizieq Shihab. (Foto : Antara)

Acuantoday.com, Jakarta-Polisi resmi menetapkan Rizieq Shihab sebagai tersangka kasus pelanggaran protokol kesehatan terkait acara pernikahan putrinya pada medio November lalu. Akibat acara itu, terjadi kerumunan massa dalam jumlah besar.

Penetapan tersangka pentolan Front Pembela Islam (FPI) itu berdasarkan hasil gelar perkara yang dilakukan penyidik Polda Metro Jaya pada Selasa (8/12).

Hasilnya, Rizieq terbukti melanggar pasal berlapis, yakni Pasal 93 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan dan Pasal 160 serta Pasal 216 KUHP.

Selain Rizieq, polisi juga menetapkan 5 tersangka lain dalam kasus ini dengan jeratan hukum serupa. Mereka semua merupakan orang lingkar dalam pada acara pernikahan, yang sebelumnya bersatus sebagai saksi.

“Yang pertama sebagai penyelenggara MRS (Rizieq Shihab), kemudian yang kedua ketua panitianya saudara HU yang ketiga sekretaris panitia saudara A yang keempat saudara MS sebagai penanggungjawab di bidang keamanan, yang kelima saudara SL untuk penanggungjawab acaranya, dan saudara HI ini sebagai kepala seksi acara,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Kamis (10/12).

Mengenai jeratan hukum yang disangkakan terhadap Rizieq, ternyata memiliki pidana penjara dengan massa kurungan beragam.

Paling lama hukumannya 6 tahun penjara, seperti sangkaan Pasal 160 KUHP yang menyebutkan, “Barang siapa di muka umum dengan lisan atau tulisan menghasut supaya melakukan perbuatan pidana, melakukan kekerasan terhadap penguasa umum atau tidak menuruti baik ketentuan undang-undang maupun perintah jabatan yang diberikan berdasar ketentuan undang-undang, diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Sementara Pasal 93 UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan berbunyi, “Setiap orang yang tidak mematuhi penyelenggaraanKekarantinaan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) dan/atau menghalang-halangi penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan sehingga menyebabkan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Sedangkan Pasal 216 KUHP berbunyi, “barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan undang-undang yang dilakukan oleh salah seorang pejabat tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda paling banyak Rp9.000.”

Polisi telah menyelidiki kasus ini sejak pertengahan November lalu, sebelum akhirnya menaikan statusnya menjadi penyidikan menjelang akhir November.

Polisi menemukan unsur pidana dalam hajat kawin putri Rizieq yang berlangsung di Petamburan, Jakarta Pusat.

Rizieq awalnya menjadi saksi untuk dimintai klarifikasinya soal dugaan protokol kesehatan dalam acaranya. Namun, dua kali panggilan polisi tak digubris, hingga akhirnya kini resmi menyandang status tersangka. (rwo)

Comments

comments