Roboh karena Terbakar, Ini Peristiwa Kebakaran yang juga Hampir Melahap Gedung Utama Kejagung

Reruntuhan sisa material Gedung Utama Kejagung yang habis terbakar pada peristiwa kebakaran hebat Sabtu tanggal 22 ahustus lalu. Minggu (27/9) para pekerja masih berupaya meratakan gedung yang akan dirobohkan karena dianggap sudah tidak layak digunakan lagi. /Foto: Rohman Wibowo (Acuantoday.com)

Acuantoday.com, Jakarta- Gedung Utama Kejaksaan Agung (Kejagung) di Jalan Sultan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, akhirnya dirobohkan yang pengerjaan sudah dilakukan sejak awal pekan ini.

“Udah dari Senin kami kerjanya, katanya ini mau dibangun ulang lagi. Tapi enggak tau kapan,” seloroh Afif, salah seorang pekerja di area reruntuhan bekas gedung utama Kejagung yang terbakar kepada Acuantoday.com, Minggu (27/9).

Afif merupakan saksi mata kebakaran hebat pada Sabtu malam tanggal 22 Agustus 2020 lalu tersebut, karena dia ada dilokasi kejadian saat bagaimana bunyi sirine mobil pemadam kebakaran memasuki gedung dalam upaya memadamkan api.

Ternyata, si jago api pernah juga mencoba hampir  meluluhlantahkan gedung utama Kejagung pada beberapa peristiwa, namun pada bebrapa kejadian itu gedung milik Korps Adhyaksa itu masih terselamatkan.

Dalam catatan Acuantoday.com, gedung yang sudah berumur separuh abad lebih itu juga pernah mengalami kebakaran pada 1979 dan 2003.

Pada kebakaran Januari 1979 hanya sebagian kantor dilalap api. Sebagian besar bagian kanan kantor berlantai enam itu hangus terbakar, termasuk ruangan-ruangan yang terbakar sama seperti kejadian Agustus ini, mulai dari tempat rapat, operasi, Biro Perencanaan Kejaksaan Agung hingga ruang bidang intelijen. Asal api diduga dari korsleting listrik.

Bergeser ke November 2003, gedung itu kembali terbakar, bahkan hingga dua kali. Kebakaran awal menghanguskan seperangkat kontrol panel listrik yang terletak di lantai dua. Kemudian siang harinya terjadi kebakaran lagi di dekat ruang keuangan di lantai tiga, persis berada di atas ruang kontrol panel listrik itu.

Gedung itu juga mengalami teror bom pada Juli 2000, atau dengan kata lain sengaja dihancurkan. Saat itu, lembaga tersebut sedang memeriksa Djoko Tjandra dan mantan Menteri Keuangan JB Sumarlin. Mereka berdua diperiksa sebagai saksi atas tersangka Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin atas kasus penyalahgunaan dana reboisasi.

Sehari sebelum Djoko diperiksa, sebuah bom meledak di kamar mandi belakang Gedung Bundar. Bom yang meledak ini kelak diketahui sebagai hasil rakitan tangan.

Ledakan bom itu melulu lantahkan ruangan kamar kecil dan dapur yang berlokasi di lantai dasar. Bom itu meledak hanya sekira satu jam setelah Hutomo Mandala Putera alias Tommy Soeharto meninggalkan Gedung Bundar, seusai diperiksa sebagai saksi atas kasus yang menjerat ayahnya, yang tak lain Presiden Soeharto.

Selang sehari bom meledak, Tim Gegana Kepolisian berhasil menemukan dua bom di kamar mandi Lantai II Gedung Bundar. Kedua bom itu dibalut dalam kardus dan bom ditemukan dalam keadaan muncul dua kabel pendek warna hitam dan putih.

Marzuki Darusman, Jaksa Agung kala itu, meyakini peristiwa tersebut terkait dengan pengungkapan kasus korupsi yang tengah dilakukan Kejagung.(rwo/har)

Comments

comments