RS Polri Terima 16 Kantong Jenazah Korban Jatuhnya Sriwijaya SJ182

Dua kantong jenazah berisi properti pesawat dan potongan tubuh dari pesawat Sriwijaya Air SJ182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Minggu (10/1/2021). (Foto : Antara)

Acuantoday.com, Jakarta―Sebanyak 16 kantong jenazah yang diduga korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182, telah diterima Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, hingga Senin (11/1) pagi. 

Selain belasan kantong jenazah, tim juga menerima tiga kantong yang berisi properti pesawat yang jatuh di sekitar Kepulauan Seribu itu. 

“Sampai jam 9 tim DVI telah menerima 16 kantong jenazah dan juga 3 kantong properti,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono saat jumpa pers di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (11/1). 

Rusdi menambahkan hingga saat ini, tim DVI telah menerima sedikitnya 40 sampel DNA keluarga dari penumpang Sriwijaya Air SJ182. Puluhan sampel DNA itu didapat dari keluarga penumpang yang berada di beberapa daerah. 

Langkah ke depan, kata Rusdi, tim bakal melakukan proses identifikasi, baik terhadap jenazah dan pencocokan DNA. Pertama, data antemortem dari korban sangat dibutuhkan untuk proses identifikasi ini. 

Rusdi menjelaskan, data antemortem itu didapat dari data umum korban. Misal dari umur, berat badan hingga rekam medis korban sebelum meninggal dunia.

“Untuk data antemortem itu bisa didapat dari data-data umum dari korban. Seperti umur, berat badan, tinggi badan, warna kulit. Hal ini bisa menjadi bagian bagaimana nanti tim DVI bekerja. Ada juga rekam medis dari korban sebelum korban meninggal dunia,” jelasnya.

Data antemortem ini kemudian akan dicocokkan dengan data postmortem untuk mengidentifikasi jenazah atau potongan tubuh jenazah yang ditemukan. 

Data-data yang diukur dalam hal ini seperti sidik jari, golongan darah, ciri-ciri fisik korban yang spesifik, konstruksi gigi geligi, foto rontgen dan foto diri korban lengkap dengan pakaian dan aksesoris yang melekat di tubuh korban.

“Kalau ada dokumen atau ijazah itu pasti ada sidik jari dari korban, itu akan digunakan oleh tim untuk mencocokkan sidik jari yang ada pada antemortem dengan sidik jari yang ditemukan contohnya pada postmortem, itu akan sangat membantu,” kata Rusdi. (rwo)

Comments

comments