Rusuh Demonstrasi karena Anarko, Kamu Perlu Tau!

Aksi massa penolakan UU Ciptaker di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Massa membakar properti milik negara. Foto: Rohman Wibowo/Acuantoday.com

Acuantoday.com- Kelompok Anarko acapkali dituding pihak keamanan sebagai perusuh demonstrasi saat unjuk rasa turun ke jalan, sehingga demonstrasi yang seharusnya ‘biasa’ menjadi ‘tidak biasa’.

Ulah terakhir anarko adalah sukses menjadikan unjuk rasa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja rusuh dan menimbulkan kerusakan sejumlah fasilitas sosial bahkan kantor ataupun pos polisi dibakar.

Polisi kerap menyematkan kelompok anarko disebut sebagai penggerak kerusuhan, bahkan dalang kerusuhan, yang menyebabkan banyak fasilitas publik rusak.

Data terakhir menyebut, sebanyak 3.862 demonstran UU Cipta Kerja diamankan dari berbagai daerah. Dari jumlah itu sebanyak 796 di antaranya teridentifikasi masuk kelompok Anarko.

Lantas, apa itu gerakan Anarko, yang selalu disebut biang rusuh oleh polisi saat demo?

Anarko merupakan varian dari paham Anarkisme, yang kali pertama diperkenalkan oleh Pierre-Joseph Proudhon dalam karyanya “What is Property?”, sekira abad ke-19 lampau. Mereka yang menasbihkan dirinya berpaham Anarkisme, dikatakan Proudhon, tidak mempercayai sistem negara.

Negara yang didalamnya dijejali aturan untuk dipatuhi disebut sebagai penindasan yang harus dilawan karena menciptakan sekat pada masyarakat. Ideologi Anarkisme, kata Proudhon, tidak menginginkan adanya perbedaan kelas antar-masyarakat. Dan karena itu, tujuan akhirnya menciptakan masyarakat tanpa kelas politik, ekonomi, hingga sosial. Begitulah gagasan besar paham Anarkisme yang diamini oleh gerakan Anarko.

Cara mewujudkan dunia ideal versi Anarkisme bisa lewat bermacam-macam cara. Tak sedikit melalui kepasifan hingga menempuh jalur kekerasan atau aksi langsung menentang peniadaan sistem negara. Namun, cara paling jamak dilakoni adalah yang pertama. Dan itu menjawab, mengapa gerakan Anarko selalu berbuat rusuh saban unjuk rasa terjadi, terlebih saat muatan demonstrasi menuntut keadilan kelas sosial.

Memimpikan kehidupan yang adil bagi semua orang tanpa adanya hierarkis negara, yang menjadi ciri paham ini, dipertegas Sejarahwan E.H. Carr dalam bukunya yang mengupas pemikiran tokoh Anarkisme, Mikhail Bakunin. Ia mengutip pidato Bakunin dalam acara Asosiasi Pekerja Internasional, atau lebih dikenal dengan sebutan L’Internationale I pada medio 1864-1876, di Brussels, Belgia.

Bakunin menyebut, kekayaan kolektif sosial diorganisasikan dari bawah ke atas secara bebas, bukan melalui segala bentuk otoritas (negara) dari atas ke bawah. Karena itu, konsep Anarkisme disebut jauh melampaui sistem kenegaraan yang ada, mulai dari kerajaan, republik, demokrasi, atau bahkan komunis. Sebab, Anarkisme menekankan kepemilikan alat produksi wajib dikuasai masyarakat secara berbarengan. Setelahnya, hasil dari produksi didistribusikan secara merata.

Paham ini secara kasat mata tak ubahnya sepeti ideologi sosialisme, yang sama-sama menentang adanya kekuasaan mutlak dalam penguasaan kapital. Karenanya, kedua paham ini mempunyai musuh sama, yakni kapitalisme, yang direpresentasikan oleh kelas pemodal hingga negara bercorak sistem ekonomi kapitalis.

Namun, ciri pembeda utama dari dua ideologi tadi satu: soal posisi negara. Bila penganut Sosialisme, seperti yang digaungkan tokoh utamanya, Karl Marx, menyebut penggunaan sistem negara diperlukan untuk mewujudkan konsep keadilan. Tapi sementara itu, Bakunin menegaskan negara tidak dibutuhkan dan lebih baik diganti oleh federasi tempat kerja yang dikelola oleh kaum pekerja.

Dengan demikian, bagi kaum anarko, anarkisme bukanlah ideologi yang masuk dalam spektrum politik sayap kiri, karena ideologi kiri itu dianggap masuk sistem kenegaraan, sebagaimana pembelahan haluan pemikiran politik dalam sistem kenegaraan: kanan dianggap konservatif atau kapitalis dan kiri disebut progresif atau sosialis.(rwo)

Comments

comments