Sambangi Komnas HAM, Keluarga Penembakan Laskar FPI Beri Kesaksian

Suhada (tengah) bapak Faiz, Laskar FPI yang ditembak mati polisi dalam insiden di ruas Tol Jakarta-Cikampek Km 51, awal Desember. Foto: Acuantoday.com (Rohman Wibowo)

Acuantoday.com, Jakarta- Suhada tak pernah diberitahu apa-apa oleh polisi soal kabar kematian anaknya. Dia adalah bapak dari Faiz Ahmad Syukur, yang ditembak mati aparat dalam insiden di ruas Tol Jakarta Cikampek Km 51, awal Desember lalu.

“Kami, pihak keluarga sangat sangat sangat terpukul atas dengan kejadian pembunuhan terhadap putra kami. Tidak ada pihak kepolisian yang memberitahu kepada kami bahwa anak “bapak telah kami bunuh”,” ujarnya kepada wartawan usai sambangi Komnas HAM, Senin (21/12).

Dia mengingat satu-satunya komunikasi yang dilakukan polisi, hanya pada saat meminta izin untuk autopsi jenazah anaknya. Itu pun, cara komunikasi yang dibangun polisi, menurutnya, jauh dari kata beradab.

“Menurut saya tidak beradab. Kenapa? Waktu anak saya dibunuh, kemudian mereka tidak memberitahu. Tapi mereka tiba-tiba menelepon, ketika kondisi kami masih terteror, kondisi kami masih sakit, perasaan kami masih sangat terpukul anak kami dibunuh,” keluh Suhada.

Baginya, perlakuan polisi sama saja menganggap remeh harga nyawa anaknya.

“Mereka minta izin autopsi, ini apa kok lewat telepon. Ini institusi besar. Ini buka masalah sepele, ini menyangkut nyawa 6 orang, warga negara, yang sebenarnya telah gagal mereka lindungi,” imbuhnya.

Kesakitan hati yang dirasa Suhada bertambah, seusai polisi menuding anaknya melakukan penyerangan lebih dulu. Tudingan itu, ia anggap sebagai sebuah fitnah. Sebab, putranya hanya menjalankan tugasnya mengawal konvoi pimpinan FPI.

“Setelah dibunuh, kemudian difitnah bahwa anak kami, membawa senjata api, senjata tajam dan lain sebagainya. Putra kami itu sedang mengawal atau konvoi. Tiba-tiba orang yang sedang konvoi ini untuk mengawal itu dibilang menyerang polisi, ini tidak logis,” tuturnya.

Kekecewaan Suhada berlanjut, ketika polisi melarangnya untuk melihat kondisi jenazah putranya, sesaat setelah tewas ditembak mati. Ia baru bisa melihat langsung kondisi mayat anaknya, sehari setelah insiden. Itu pun berkat bantuan dari seorang anggota DPR.

“Saya hanya boleh melihat wajah anak saya, tapi tidak apa-apa. Wajahnya bagus, tersenyum,” ingat Suhada soal wajah anaknya.

Ingatan Suhada soal kondisi terakhir jasad anaknya, menjelaskan bahwa tubuh anaknya dipenuhi luka tembak dan luka memar, yang diduganya bekas penyiksaan. “Kami melihat suatu kebiadaban, yang luar biasa,” ucapnya. (rwo)

Comments

comments