Sambangi Mabes Polri, Amien Rais cs Sampaikan Tuntutan kepada Staf Humas

Pendiri yang juga mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais. (Foto : Antara)

Acuantoday.com, Jakarta – Politisi senior Amien Rais bersama sejumlah tokoh politik lainnya, seperti Marwan Batubara mendesak polisi membebaskan Muhammad Rizieq Shihab. Mereka bersedia menjadi penjamin kebebasan Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) itu.

Sikap mereka bukan gertakan sambal belaka, karena melayangkan desakan itu langsung ke Kapolri Jenderal Idham Azis. Namun aksinya mentok, lantaran Idham Azis dan petinggi Polri lainnya tak ada di Bareskrim, ketika mereka hendak menyampaikan selembar surat.

“Kami berdelapan ingin ketemu Kapolri, tapi beliau ada di luar kantor. Kami pokoknya ingin ketemu siapapun wakilnya, kemudian dibawa ke Divisi Humas, tapi Kepala Divisi Humas pun tadi sedang pergi. Jadi tadi kami diterima oleh stafnya. Yang akan kita sampaikan tuh apa, silakan dibaca (surat),” kata Amien Rais di Bareskrim, Kamis (17/12).

Penekanan dalam isi surat itu berkaitan dengan situasi Indonesia yang tengah gaduh, semenjak kembalinya Rizieq ke Indonesia. Bagi mereka, ekses yang muncul dari sikap Rizieq mesti disikapi bijaksana oleh pemerintah. Kalau tidak, stabilitas keamanan nasional yang jadi taruhannya.

Karena itu, penahanan Rizieq justru menjadi langkah kontra-produktif dalam menjaga keamanan negara. Alih-alih meredam kegaduhan, justru memperparah amarah pengikut Rizieq, yang semakin mantap jadi oposisi pemerintah.

Pemerintah, lantas didesak untuk melakukan pendekatan humanis terhadap Rizieq.

“Sesungguhnya jika pemerintah beritikad baik mampu membuka diri dan membangun dialog secara tulus ikhlas, maka diyakini situasi dan kondisi kehidupan sosial politik akan menjadi lebih baik. Kegaduhan yang terjadi dan terhambatnya saluran dialog semakin memperlebar jarak antara pemerintah dengan pendukung HRS,” bunyi sebagian isi surat itu.

Terlebih sebelumnya, api amarah pengikut Rizieq sudah dipantik dengan insiden penembakan mati 6 Laskar FPI di ruas Tol Jakarta-Cikampek Km 51 itu, awal Desember ini. Ketegangan antara FPI versus polisi bisa terus terjadi, mengingat keduanya saling bantah soal kronologi peristiwa.

Bagi Amien dan kawan-kawan, kondisi demikian berpotensi menyebakan pembelahan masyarakat, yang ujung-ujungnya mengoyak persatuan.

“Kami sangat khawatir akan terpecahnya bangsa Indonesia menjadi dua kubu yang saling berhadap-hadapan sebagai resultan terbunuhnya enam orang laskar FPI dan perkara kerumunan yang berujung ditahannya HRS,” kata mereka.

Tokoh politik dan agama di luar Amien dan Marwan, yang ikut menandatangani surat desakan untuk polisi itu antara lain: Muhyiddin, Junaidi, Abdullah Hehamahua, T Zulkrnaen, Abdul Chair, Bukhori Muslim, Neno Warisman, Ansyufri Sambo, Syamsul Balda dan Nurdiati Akma.

Selain menuntut polisi untuk membebaskan Rizieq, mereka sepakat pemerintah mesti melakukan hal ini untuk meredakan situasi. Yaitu, segera dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang independen, bebas dari pengaruh dan tekanan pihak mana pun guna mengusut tuntas kejahatan HAM berat dan tindak pidana terorisme atas terbunuhnya enam orang laskar FPI.

Kemudian, mereka mengajak seluruh anak bangsa untuk terus mengawasi, mengawal dan ikut mengadvokasi secara intens seluruh proses penuntasan tragedi kemanusiaan tersebut. (rwo)

Comments

comments