Sanksi Lemah, Masyarakat Abaikan Protokol Kesehatan

Ilustrasi-Eskalator di sebuah mal di Jakarta menerapkan aturan jaga jarak./Foto: Acuantoday.com (Ahmadi Supriyanto)

Acuantoday.com, Jakarta―Survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) kepada 90.967 orang menemukan, sebanyak 55 persen responden tidak menerapkan protokol kesehatan mencegah COVID-19 seperti memakai masker dan menjaga jarak karena tidak adanya sanksi yang diterapkan.

“Sekarang ini pemerintah sudah menerapkan sanksi, tampaknya ke depan sanksi ini perlu lebih dipertegas lagi,” kata Kepala BPS Dr. Suhariyanto dalam rilis hasil survei yang dilakukan pada diskusi Satgas Penanganan COVID-19 di Graha BNPB, Jakarta, Senin (29/9).

Selain itu, dalam survei secara daring yang dilakukan pada 7-14 September itu, BPS menemukan, selain ketiadaan sanksi, 39 persen responden mengatakan alasan tidak menerapkan protokol kesehatan karena tidak ada penderita COVID-19 di lingkungan sekitar mereka. Tidak hanya itu, 33 persen responden juga mengatakan pekerjaan mereka akan menjadi sulit jika harus menerapkan protokol kesehatan.

Dalam survei BPS itu juga menyebutkan, ada 17,32 persen responden yang menyebut pasar tradisional dan pedagang kaki lima sebagai tempat yang tidak menerapkan protokol kesehatan sama sekali. Sementara 5,78 persen responden menilai tempat ibadah dan 2,08 persen memilih tempat kerja.

Terkait protokol kesehatan sendiri, survei BPS memperlihatkan penggunaan masker adalah protokol kesehatan yang paling dituruti dengan 91,98 persen responden mengatakan sering atau selalu menggunakannya. 

Hal itu, kata Suhariyanto, lebih tinggi dibandingkan dengan 75,38 persen yang rajin mencuci tangan dengan sabun dan 73,54 persen patuh menjaga jarak.

Terkait hasil tersebut, Kepala Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo mengatakan bahwa hasil survei BPS itu sangat bermanfaat untuk kebijakan satgas.

Pria yang juga menjabat sebagai Kepala BNPB itu juga mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada terkait pandemi COVID-19, karena penyakit yang menyerang sistem pernapasan itu menular lewat manusia.

“Inilah yang harus kita lakukan bagaimana kita secara bersama-sama menggerakkan seluruh instrumen baik yang ada di pusat maupun di daerah dengan kolaborasi pentahelix berbasis komunitas,” demikian Doni Monardo. (ahm)

Comments

comments