Satgas Pangan Belum Temukan Praktik Penimbunan Kedelai

Pedagang tahu dan tempe keluhkan lonjakan harga kacang kedelai. /Foto: Antara

Acuantoday.com, Jakarta―Satgas Pangan Polri hingga kini belum menemukan adanya praktik penimbunan kedelai yang dikhawatirkan sebagian kalangan.

Kabag Penum Polri Kombes Ahmad Ramadhan menuturkan, tim Satgas Pangan Polri sudah bergerak melakukan pemantauan terkait dugaan penimbunan, sejak adanya mogok produksi massal dari pengrajin kedelai di awal tahun 2020 sebagai bentuk protes atas langka dan mahalnya harga kedelai utamanya yang impor.

“Sampai saat ini Satgas Pangan masih melakukan pemantauan terhadap kemungkinan-kemungkinan dan mengantisipasi terhadap kemungkinan penimbunan terhadap kedelai. Sampai saat ini belum ditemukan penimbunan kedelai atau bahan kedelai,” kata Ahmad dalam jumpa pers di Bareskrim Polri, Selasa (12/1). 

Sejak tanggal 1 hingga 3 Januari kemarin, para pengrajin tahu dan tempe mogok massal berproduksi. 

Menurut Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin, sedikitnya ada sebanyak 160.000 pengrajin yang tersebar di seluruh Indonesia melakukan aksi tersebut.

Pangkalnya, mereka kesulitan secara keuangan untuk membeli kedelai impor yang harganya naik. 

Normal harga kedelai, kata Aip, ada di kisaran Rp6.100-6.500 per kilogram (Kg), namun kini naik jadi sekira Rp9.500/Kg.

Selain aksi mogok sebagai bentuk protes harga tinggi, para pengusaha tempe dan tahu pun terpaksa pasang harga dua komoditi pangan itu di atas harga normal. 

Aip menerangkan, sebelumnya harga tahu dan tempe yang biasa beredar di pasaran ialah Rp 2.500-3.000 per potong, dengan berat sekitar 250 gram.

 

Namun dengan kenaikan ini, maka diperkirakan harga tahu tempe per per potong naik Rp 14.000-15.000/kg. Dengan begitu, maka tak pelak harga tahu dan tempe akan naik menjadi Rp 3.500-4.000 per potong.

Aip beranggapan dampak perdagangan global jadi musabab naiknya kedelai. Sebab, Tiongkok mulai mesra lagi dengan Amerika Serikat selaku eksportir utama kedelai, pasca terpilihnya Joe Biden. 

Alhasil, permintaan kedelai dari Tiongkok ke Amerika Serikat meningkat pesat, sementara Indonesia bergantung impor kedelai dari negeri Pamam Sam tersebut. 

Di sisi lain, ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor pun semakin dalam, setidaknya sejak 10 tahun belakangan. BPS mencatat, pada 2010, impor kedelai mencapai 1.740.504 ton, terus naik hingga 2.670.086 ton pada 2019. 

Tahun lalu, hingga Oktober, Indonesia tercatat sudah mengimpor kedelai sebanyak 2,11 ton dengan total transaksi sebesar 842 juta dolar AS atau sekitar Rp11,7 triliun (kurs Rp 14 ribu). 

Negara yang paling banyak mengekspor kedelai menuju Indonesia adalah mulai dari Amerika Serikat, Kanada, Malaysia, Argentina, dan Perancis. (rwo)

Comments

comments