Sejumlah Lembaga Ekonomi Dunia Merevisi Proyeksi, Menkeu: Sinyal Ada Pemulihan

Ilustrasi-Pembangunan proyek gedung di DKI Jakarta./Foto: Acuantoday.com (Ahmadi Supriyanto)

Acuantoday.com, Jakarta―Revisi proyeksi ekonomi global oleh Dana Moneter Internasional (IMF) dari minus 5,2 persen menjadi minus 4,4 per sen pada tahun ini, menunjukkan sudah mulai terjadi adanya pemulihan.

“Ini artinya menggambarkan di beberapa daerah terutama di negara advance terjadi pemulihan yang lebih cepat terutama pada kuartal ketiganya,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN KiTa secara daring di Jakarta, Senin (19/10).

Tak hanya IMF, menurut Sri Mulyani, revisi proyeksi ekonomi global untuk 2020 juga dilakukan oleh OECD, yakni dari minus 7,6 persen menjadi 6 persen pada Juni, kemudian direvisi lagi menjadi minus 4,5 persen pada September.

Ia mengatakan outlook global untuk 2020 lebih baik karena pemulihan ekonomi yang terjadi di beberapa wilayah lebih cepat dibandingkan dengan estimasi awal.

Meski demikian, menurutnya risiko utama yang dapat mempengaruhi outlook tersebut adalah eskalasi COVID-19 dan ketersediaan vaksin sehingga penguatan kerja sama multilateral menjadi langkah tepat untuk mempercepat pemulihan.

“Dari semua outlook untuk tahun depan ini, diperkirakan adalah mulai adanya ketersediaan vaksin,” ujarnya.

Oleh sebab itu, hingga saat ini masing-masing negara masih terus melakukan konsolidasi baik dari fiskal maupun moneter dalam mengelola dan menahan perekonomian yang mengalami kontraksi cukup dalam.

Hal itu dilakukan karena COVID-19 telah menyebabkan pertumbuhan ekonomi dan defisit di berbagai negara tertekan sangat berat sekalipun kepada negara dengan kapasitas fiskal yang baik.

“Kalau kita lihat di negara-negara Eropa bahkan yang sudah melakukan all out dari policy mereka, pertumbuhan ekonominya tetap mengalami kontraksi yang luar biasa dalam,” ujarnya.

Ia menyebutkan untuk Spanyol kuartal II terkontraksi 22,1 persen dan kuartal III diperkirakan minus 12,3 persen serta Inggris kuartal II terkontraksi 21,7 persen dan kuartal III diperkirakan minus 10,7 persen karena mengalami pukulan dari brexit yang tidak pasti sekaligus pandemi COVID-19.

Kemudian Perancis kuartal II minus 19 persen dan kuartal III akan minus 9,5 persen, Meksiko kuartal II minus 18,9 persen dan kuartal III diperkirakan masih minus 11,5 persen, serta Italia minus 17,3 persen pada kuartal II dan kuartal III minus 9,7 persen.

Untuk India mengalami kontraksi yang termasuk paling dahsyat yaitu minus 23,9 persen pada kuartal II, sedangkan kuartal III diperkirakan juga masih mengalami minus 6,6 persen. (mad)

Comments

comments