Sempat Merosot, Garuda Akui Tertolong Penerbangan Domestik

Pekerja menurunkan muatan kargo dari pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 143 setibanya di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Rabu (2/9/2020)./Foto: Antara

Acuantoday.com, Jakarta – Pandemi Covid-19 yang memukul industri penerbangan, membuat pendapatan Garuda merosot hingga 90 persen. Namun, kondisi ini dapat tertolong dengan adanya penerbangan domestik.

“Masing untung, kita punya pasar domestik yang cukup kuat dan besar. Di domestik kita sudah mulai bangkit kembali,” kata Direktur Layanan, Pengembangan Usaha, dan Teknologi Informasi Garuda Indonesia Ade R Susardi dalam diskusi daring bertajuk “Panduan Protokol Baru untuk Operasi Bisnis Berkelanjutan: Industri Transportasi Publik” di Jakarta, Kamis (3/9).

Untuk penerbangan internasional, menurut Ade, terdapat sejumlah pembatasan perjalanan (travel restrictions) di beberapa negara yang menyebabkan penghentian sementara operasional.

Meski begitu, sambungnya, saat ini Garuda masih terbang ke sejumlah rute internasional, seperti Belanda, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Australia, dengan frekuensi penerbangan yang dipangkas. Misalnya, rute Jakarta-Amsterdam semula enam kali seminggu, saat ini satu kali seminggu.

Kemudian, untuk penerbangan ke Sidney, Australia penumpang dibatasi hanya 50 orang yang boleh masuk ke negara tersebut karena aturan setempat.

Berdasarkan survei yang dilakukan Garuda, sebanyak 73 persen masyarakat menyatakan minatnya untuk kembali terbang saat ini hingga enam bulan ke depan, 65 persen menyatakan perlu terbang sampai Desember 2020.

“Tapi yang benar-benar beli tiket hanya 12 persen. Hal ini juga yang kita lihat sebagai satu kendala, ingin, tapi enggak yakin karena situasinya ragu, takut dokumen kurang atau perlu persiapan PCR, rapid test, di mana tempat melakukannya tes cepat, PCR, apakah di tempat tujuan harus dilakukan juga, ini complicated,” katanya.

Akibatnya, banyak calon penumpang memutuskan untuk menggunakan jalur darat, terutama  di Pulau Jawa karena didukung infrastruktur jalan tol yang memadai.

Garuda mencatat pada Mei lalu sempat terjatuh ke jurang terdalam, yakni hanya mengoperasikan 30 penerbangan dalam sehari yang separuhnya adalah penerbangan kargo. Namun, kondisi berangsur membaik di mana pada pekan lalu saat libur panjang sempat mengoperasikan 170 penerbangan dengan jumlah 9.000 penumpang per hari.

“Sekarang rata-rata 7.000 sampai 8.000 per hari. Kita harapkan semua menjadi lebih baik, jumlah penumpang lebih banyak, hal itu yang bisa menyelamatkan Garuda ke depan,” tutup Ade. (mad)

Comments

comments