Sindikat Penipu Online Putra Presiden Ternyata Anak SMP

Kepala Biro Penerangan Masyarakat, Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Awi Setyono dalam jumpa pers di Bareskrim Polri. Penyidik Bareskrim Polri Jumat (25/9/2020) memeriksa dua pejabat kejaksaan aguyng dalam kasus kebakaran gedung kejagung./Foto: Romhan Wibowo (Acuantoday.cm)

Acuantoday.com, Jakarta- Direktorat Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal Polri berhasil mengungkap sindikat jaringan bisnis penipuan di media sosial yang salah satu korbannya adalah putra Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep.

Setelah ditelusuri, polisi mendapati pelakunya para bocah yang masih duduk dibangku sekolah menengah pertama (SMP). Modus pelaku berpura-pura menjadi penjual beragam barang via online, namun setelah uang ditransfer barang tak kujung dikirim.

Kaesang termasuk beruntung karena tidak berhasil diperdaya dan ditipu para palaku. Adapun puluhan korban lain telah diperdaya pelaku.

“Rata-rata anak ini di bawah umur, antara 15-16 tahun. Kelas 7-8-9 SMP, ya. Karena mengingat kasus ini pelaku di bawah umur, kita koordinasikan dengan Bapas setempat,” ucap Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Awi Setiyono dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jumat (18/9/2020).

Yang membuat polisi tercengang, para pelaku yang masih bocah itu sudah mampu menguasai kejahatan teknologi via online dengan jangkauan wilayah operasi lintas provinsi. Selain itu, nilai transaksi yang berhasil diraup dari kejahatan mereka jumlahnya mencapai ratusan juta.

“Ini ada fenomena luar bisa terkait kasus penipuan online dengan modus pelelangan barang di Instagram yang kerugiannya mencapai ratusan jutaan rupiah,” ungkap Awi Setiyono.

Barang bukti pelaku yang berhasil disita Tim siber Polri. Sindikat penipuan bisnis online diketahui para pelakunya anak di bawah umur. Foto: Rohman Wibowo/Acuantoday.com

Untuk diketahui, pada awal bulan ini, dunia maya sempat diramaikan dengan cuitan Kaesang, yang mengaku menjadi target penipuan akun lelang fiktif melalui media sosial Instagram.

“Sumpah ngakak ada yang mau nipu saya. Niatnya mau nipu karena saya menang auction. Padahal udah semangat nipu,” cuit Kaesang dalam akun twitternya @kaesangp. Namun, bukanya diperdaya, Kaesang justru berhasil mengungkap indentitas pelaku.

Kasus ini bermula, dari laporan salah seorang korban yang masuk pada 8 September. Kepolisian lantas melakukan penyelidikan terhadap akun bodong bernama @luckycatsauction.

Polisi mengaku kesulitan mengungkap kasus ini karena butuh waktu berminggu-minggu melacak identitas mereka secara daring. Kepiawaian mereka berselancar di dunia maya juga menjadi penghambat proses penyelidikan.

“Setelah lidik mendalam, mulai dari cek lokasi, cari kepemilikan akun, barulah identitas bersangkutan didapatkan di wilayah Aceh dan Medan,” ungkap Awi.

Ada empat bocah dalam jaringan penipuan ini yang statusnya kini telah ditetapkan sebagai tersangka.
“Tersangka atas nama inisial AR, GR, MR dan DFY,” imbuhnya.

Awi menjelaskan komplotan bisnis penipuan ini, kenal satu sama lain meski tidak pernah melakukan pertemuan fisik. Mereka berkomunikasi secara daring dalam menjalankan bisnis, termasuk bagaimana mengatur modus penipuannya.

“Di situ korban melakukan transaksi kemudian mengirim ke rekening tertentu yang kemudian diketahui sebagai rekening penampungan. Tapi barang tidak pernah datang,” ungkapnya.

Kepada polisi, pelaku mengaku puluhan orang sudah jadi korbannya dengan total pendapatan di atas Rp100 juta.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat pasal 45 A ayat 1 juncto pasal 28 ayat 1 dan atau pasal 51 ayat 2 juncto Pasal 36 UU No. 19/2016 tentang perubahan atas UU no 11 th 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik atau pasal 378 KUHP juncto pasal 55 KUHP dengan ancaman pidana paling lama penjaara 12 tahun atau denda Rp12 miliar.

Kepolisian mengimbau, agar kejadian serupa tak terulang dengan penguatan lagi peranan orang tua. “Kami mengimbau untuk orang tua mengawasi perilaku anaknya, karena anak sekarang tumbuh di era digital,” pesan Awi.(rwo/har)

Comments

comments