Soal Tersangka Kebakaran Gedung Kejagung, Polri Tunggu Hasil Penyidikan

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Awi Setiyono dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jumat (18/9/2020). Proses penyidikan kasus yang dilakukan Polri ke depan mengarah pada adanya tersangka kasus tersebut./Foto: Rohman Prabowo (acuantoday.com)

Acuantoday.com, Jakarta- Pasca temuan adanya unsur pidana kasus kebakaran gedung utama Kejakasaan Agung (Kejagung), proses pengembangan kasus yang dilakukan Polri ke depan mengarah pada adanya tersangka kasus tersebut.

“Tentunya kita sambil menunggu apa perkembangannya proses penyidikan selanjutnya tentunya akan kami sampaikan terkait dengan hasil penyidikannya. Khususnya nanti tentunya nanti akan mencari siapa tersangkanya,” sebut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Awi Setiyono dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jumat (18/9/2020).

Meski gelar perkara sudah dilakukan atas kebakaran gedung Korps Adhyaksa tersebut, namun Polri bersikap hati-hati untuk menentukan tiap proses tahapan pengembangan kasus tersebut. Polri belum berani mengekpos pemicu open flame (nyala api) yang menjadi petunjuk awal asal kebakaran terjadi.

“Yang jelas asal api tak terbantahkan dari lantai 6 karena didukung saksi-saksi dan barang bukti,: kata Awi.

Sikap hati-hati juga disampaikan Polri terkait hasil olah TKP dan pemeriksaan lab dari Tim Inafis tentang adanya keberadaan orang saat open flame menyala.

“Itu sudah masuk ke materi. Ini bukan soal yang melintas atau tidak melintas. Yang jelas ini dipicu open flame. Tinggal open flame itu dari kesengajaan atau kealpaan,” katanya.

Sejauh ini pengusutan insiden kebakaran oleh Polri mengerucut pada dugaan pidana. Polri pun sudah memeriksa 131 orang saksi dan melalukan pra-rekonstruksi. Hasilnya ditemukan dugaan unsur pidana tadi, sesuai dalam Pasal 187 KUHP dan/atau Pasal 188 KUHP.

Pasal 187 KUHP sendiri menyebutkan barangsiapa dengan sengaja mengakibatkan kebakaran terancam 12 tahun penjara, atau 15 tahun penjara, atau seumur hidup apabila ada korban meninggal.

Kemudian, Pasal 188 KUHP menjelaskan, barangsiapa dengan kesengajaan atau kealpaan menyebabkan kebakaran dijerat dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

Kedua pasal di atas punya dua pengertian bahwa kebakaran Kejagung ditengarai karena kesengajaan atau kealfaan.

Adanya unsur kesengajaan dalam kebakaran hebat pada 22 Agustus lalu sesuai dengan opini yang berkembang di masyarakat. Hal ini tak terlepas dari deretan kasus korupsi besar yang tengah ditangani Kejagung. Misal kasus Jiwasraya dan Djoko Tjandra.(rwo/har)

Comments

comments