Sosok Gibran Dinilai Bisa Jadi Pemersatu Islah di KNPI

Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka saat melakukan Mider Projo./Foto: Antara/Aris Wasita.

Acuantoday.com, Jakarta- Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari mengapreasi rencana islah tiga kubu Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) jelang pelaksanaan Rapimpurnas, serta Kongres bersama XVI pada tahun 2021.

Menurut Qodari, untuk meredam konflik yang sudah 15 tahun lebih muncul di tubuh kepengurusan DPP KNPI, perlu adanya figur yang tepat untuk menyatukan tiga lisme di tubuh KNPI. Pasalnya, perpecahan di tubuh KNPI sudah terjadi sekitar 15 tahun yang lalu, saat terjadinya dualisme pengurus antara kubu pimpinan Ahmad Doli Kurnia dan Azis Syamsuddin pada periode kepengurusan 2008-2011.

“Diperlukan seorang figur pemersatu yang bisa diterima semua kalangan dengan baik. Pertama, karena dia bukan menjadi bagian dari konflik; kedua, dia juga figur yang lagi naik daun (rising star); ketiga dia juga membawa iklim dan program baru, yang betul-betul fresh,” kata Qodari lewat keterangan tertulis yang diterima Acuantoday.com, Sabtu (13/3).

Dikatakan Qodari, Walikota Solo Gibran Rakabuming sebagai pilihan tepat memimpin KNPI, karena dianggap sebagai sosok muda yang diharapkan menjadi titik temu bagi semua kelompok karena bukan menjadi bagian dari konflik.

Qodari menilai, Gibran juga memiliki latar belakang enterpreneur, sehingga bisa membuat program kerja dan suasana kerja baru yang berorientasi kepada kewirausahaan, tidak semata-mata berorientasi kepada politikan sich.

“Jadi tepat apabila, para kubu-kubu yang berkonflik ini untuk bisa mulai mempertimbangkan Gibran sebagai Ketua Umum KNPI, sebagai momentum kembali bersatunya KNPI. Sekaligus momentum bersatunya kembali pemuda se Indoneisa,” ucapnya.

Selain dibutuhkan figure pemersatu, Qodari juga meminta kebesaran hati dari para senior KNPI yang selama ini bertikai, sebab ditengarai konflik KNPI yang terjadi hari ini merupakan warisan perpecahan pengurus sebelumnya.

“Untuk bisa bersatu itu diperlukan kebesaran hati dari kubu-kubu yang selama ini berkonflik, termasuk tokoh-tokoh seniornya, karena sesungguhnya perpecahan ini adalah turunan dari perpecahan-perpecahan sebelumnya,” jelasnya.

Selain itu, Qodari menambahkan, untuk mendamaikan organisasi kepemudaan ini, para tokoh senior, khususnya era KNPI masih bersatu, untuk turun gunung mendamaikan juniornya yang berkelahi, memberikan teladan agar tercipta persatuan dan kesatuan

“Perlunya para tokoh senior untuk turun gunung terutama tokoh-tokoh senior dari era ketika KNPI itu solid dan bersatu misalnya Akbar Tanjung, Tjahjo Kumolo, Idrus Marham. Jadi ini semua kan adik-adik mereka jadi para senior menjadi motor persatuan dan kesatuan,” terangnya.

“Jangan justru para senior jadi bagian dari pembelahan itu. Apa lagi mejadi sutradara pembelahan, karena sedikit banyak konflik itu terjadi karena ada campur tangan dari pada seniornya,” pungkasnya.

Diketahui, saat ini KNPI terpecah menjadi tiga kepengurusan yakni kepengurusan dibawah pimpinan Haris Pertama, Noer Fajrieansyah, dan Abdul Aziz. Buat Qodari, ini adalah sebuah kerugian besar bagi pemuda Indonesia.

“Ini tentunya sesuatu ironi dan kerugian. Ironi karena pemuda itu sebetulnya tokoh pemersatu bangsa, dimulai dan ditandai dengan peristiwa Sumpah Pemuda 1928. Jadi kalau organisasi pemudanya terpecah, ini jelas merupakan ironi terhadap peran sejarah pemuda sebagai pemersatu bangsa,” tutupnya. (rht)

Comments

comments