Strategi Tingkatkan Pariwisata, Menunggu Sambil Berbenah

Candi Borobudur (ANTARA/Heru Suyitno)

Acuantoday.com— Masa penantian hingga tercipta kekebalan kawanan (herd immunity) terhadap Covid-19 setelah proses vaksinasi mesti dimanfaatkan pengelola wisata untuk berbenah agar siap menyambut wisatawan saat waktunya tiba, sementara fasilitas serta protokol kesehatan yang baik di tempat-tempat wisata di Tanah Air sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan wisatawan.

Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Henky Hotma Parlindungan Manurung, dalam bincang-bincang daring di YouTube BNPB, dikutip Sabtu, mengatakan sejauh ini sudah banyak pelaku usaha di berbagai tempat yang menambah sarana protokol kesehatan seperti tempat mencuci tangan.

Dia mencontohkan praktik yang telah berlangsung di Candi Prambanan, salah satu tujuan wisata populer, yang beradaptasi juga dengan teknologi sehingga wisatawan bisa mengurangi kontak fisik dan menekan risiko infeksi penyebaran virus corona.

Wisatawan, yang harus mendaftar, bisa membeli tiket secara daring. Dia menilai, protokol kesehatan di Candi Prambanan dan Borobudur juga sudah diterapkan ketika ditinjau pada Desember 2020. Masyarakat sekitar juga sudah dibiasakan memakai masker dan rutin memakai hand sanitizer untuk menjaga kebersihan. Dari sisi kesiapan tujuan wisata, pengelola wisata sudah mulai menjalankan protokol kesehatan untuk bersiap menyambut lagi wisatawan.

“Dengan adanya vaksin nanti, semoga bisa cepat pulih,” kata Henky, menambahkan suasana diprediksi mulai kembali normal pada 2022.

Tahun lalu, lanjut dia, sudah ada hampir 15.000 usaha yang mendapatkan sertifikasi “Clean, Health, Safety and Environment” yang berfungsi sebagai jaminan kepada wisatawan dan masyarakat bahwa produk dan pelayanan yang diberikan sudah memenuhi protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan.

Pemberian sertifikat kepada usaha pariwisata, usaha/fasilitas lain terkait, lingkungan masyarakat, dan destinasi pariwisata dilakukan dengan melibatkan tim auditor independen terhadap penerapan protokol kesehatan.

Pemerintah menargetkan jumlah penerima sertifikasi CHSE bisa berlipat ganda pada 2021. Henky menambahkan, proses ini harus dilewati bersama-sama melalui kolaborasi dari berbagai pihak.

“Kita lakukan secara bersama- sama dan kita yakin bahwa kita adalah bangsa yang mampu melewati seluruh pandemi Covid-19 ini.”

Direktur Utama PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, Edy Setijono, mengemukakan pihaknya berupaya melewati 2021 untuk meninjau ulang layanan dan standard fasilitas agar betul-betul siap ketika pandemi COVID-19 berakhir. “Di masa landai seperti ini, tidak adanya kunjungan, kita pakai untuk berbenah.”

Dengan cara menawarkan fasilitas protokol kesehatan yang mumpuni, diharapkan kepercayaan diri masyarakat untuk berwisata bakal tumbuh sehingga roda perekonomian kembali bergerak. Dia mencontohkan protokol kesehatan yang diterapkan. Wisatawan yang datang selalu diperiksa suhu tubuhnya sebelum masuk ke area wisata.

Mereka yang dianggap aman dan sehat akan diberi stiker hijau, sementara wisatawan yang suhu tubuhnya di atas ketentuan akan diberikan stiker merah. Ada jalur khusus untuk pengunjung dengan stiker merah. Mereka bakal diarahkan ke klinik khusus untuk diperiksa lebih lanjut.

Wisatawan domestik adalah harapan utama, sebab pergerakan wisatawan mancanegara masih bakal terhambat akibat pandemi di berbagai negara yang belum mereda.

Edy menyampaikan, pandemi membuat beberapa acara yang direncanakan tahun lalu terpaksa ditunda, atau diselenggarakan secara virtual. Dia berharap kehadiran vaksin bisa membuat kondisi pariwisata pada semester kedua membaik.

Pihaknya tetap menyiapkan acara-acara sepanjang 2021, khususnya pada semester kedua. Dia masih menggodok format yang tepat, antara virtual atau hibrida, gabungan virtual dan on-site. Bila kondisi belum memungkinkan kelak, dia siap menunda lagi rencana acara, atau melaksanakannya secara daring.

“Saya kira pandemi ini hanya bisa kita selesaikan kalau kita disiplin. Kita harus disiplin dengan protokol kesehatan untuk kita sendiri, keluarga kita, lingkungan kita. Jadi ini bukan berbicara orang lain, tapi ini bicara kita sendiri. Mari kita sama-sama jalankan protokol kesehatan itu dengan baik,” pesan dia.

Periode menunggu suasana kembali normal harus dilewati dengan memutar otak untuk menciptakan solusi yang kreatif. Ketua Badan Pimpinan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sutrisno Iwantono mengatakan, hotel-hotel saat ini bisa berpikir “out of the box” dalam mencari pemasukan.

Tidak cuma mengandalkan tamu konvensional, hotel juga bisa membuat strategi lain seperti menyediakan layanan untuk isolasi mandiri, terutama untuk masyarakat kelas menengah ke atas yang ingin menjalani isolasi dalam suasana lebih menenangkan meski harus merogoh kocek lebih dalam.

Saat ini, pasien Covid-19 tanpa gejala di DKI Jakarta bisa menjalani isolasi mandiri di sejumlah hotel dan gedung di Jakarta tanpa dipungut biaya dengan syarat mendapatkan rujuan dari puskesmas.

Hotel-hotel yang dijadikan tempat isolasi mandiri itu di antaranya Hotel Ibis Senen, Hotel Grand Asia Jakarta, Hotel U-Stay Mangga Besar, Hotel Twin Plaza, serta Hotel Ibis Style Mangga Dua.

Sementara itu, Hotel Mega Anggrek dan Hotel Ciputra menerapkan tarif bagi pasien Covid-19 yang akan menjalani isolasi tersebut dengan besaran biaya isolasi mandiri pasien diatur sesuai ketentuan hotel masing-masing. Graha Wisata TMII dan Graha Wisata Ragunan juga dipakai untuk isolasi pasien tapa gejala yang dibiayai Pemerintah Provinsi DKI.

Hotel-hotel lain bisa memanfaatkan peluang dengan menyasar lapisan kelompok masyarakat yang ingin menjalani isolasi mandiri di tempat yang relatif lebih nyaman.

Pihaknya juga mengapresiasi bantuan dari pemerintah untuk para pelaku usaha di sektor pariwisata, seperti kucuran dana hibah Rp3,3 triliun dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk restoran, hotel hingga kafe yang usahanya turut terdampak pandemi.

Dia berharap tahun ini bantuan tersebut kembali diadakan, juga keringanan soal biaya seperti pajak. Selain itu, Sutrisno juga meminta agar masyarakat turut andil meningkatkan produktivitas hotel dan restoran di daerah masing-masing sebisanya.

“Misalnya kalau orang-orang DKI Jakarta, kalau ada rapat tolonglah pemerintah itu jangan di luar DKI. Demikian juga orang Jawa Barat, kalau ada acara-acara, jangan keluar dari daerahnya masing- masing. Supaya apa? Supaya kegiatan itu bisa menghidupi. Baik itu hotel, restoran, maupun sektor-sektor lain.”***dian/ant

Comments

comments