Sultan HB X Siap Divaksin Covid-19 untuk Lansia

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. (Foto : Chaidir/Acuantoday.com)

Acuantoday.com, Yogyakarta- Ribuan pedagang kaki lima (PKL) dan pegawai toko di sepanjang kawasan Alun-Alun Utara, Malioboro hingga Tugu Pal Putih siap divaksin Covid-19 pada tahap kedua mulai 1 Maret nanti. Mereka juga mendukung Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta yang akan memberikan sanksi kepada yang menolak vaksinasi.

Sementara itu, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan dirinya siap divaksin Covid-19 untuk kategori lanjut usia (Lansia).
Sejumlah paguyuban pedagang dan PKL di sepanjang kawasan Malioboro mendukung langkah Pemkot Yogyakarta yang akan menerapkan sanksi bagi koleganya yang menolak vaksin Covid-19. Sebab, mayoritas pelaku pariwisata menyambut baik proses imunisasi ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pemkot Yogyakarta tengah membahas penerapan sanksi bagi pedagang yang menoak divaksin. Yakni, dengan mewajibkan menunjukkan surat keterangan sehat, atau hasil swab antigen setiap tiga hari sekali, sebagai syarat beraktivitas, atau berjualan.

Ketua Paguyuban Pedagang Kaki Lima Malioboro-Ahmad Yani (Pemalni), Slamet Santoso menyatakan, sampai saat ini pihaknya memang belum mendapat sosialisasi mengenai wacana tersebut. Tapi, demi kebaikan bersama, paguyuban pun mempersilakan pemerintah menerapkannya.

“Pemalni mendukung adanya sanksi. Proses vaksin ini kan kewajiban kita bersama, sehingga saya kira sangat penting. Kita sudah sosialisasiken ke anggota ya, vaksinasi ini demi kesehatan kita juga,” kata Slamet, Selasa (23/2/2021).

Dikatakan, dari Pelmani terdapat lebih kurang 440 pedagang yang terdata untuk mengikuti proses vaksinasi ini, yang dilakukan sejak pekan lalu.
Dari jumlah itu, mereka yang menolak vaksin hanya sebagian kecil saja.

“Ada satu, atau dua yang menolak. Tapi, sudah kami berikan pemahaman. Saya kumpulkan pengurus-pengurusnya, untuk ikut menyosialisasikan ke anggota. Nah, setelah itu paham, mereka akhirnya bersedia divaksin,” ujarnya.

Sedangkan Koordinator Paguyuban Pedagang Pasar Beringharjo Barat, Bintoro pun mempersilakan Pemkot Yogyakarta menerapkan sanksi terhadap mereka yang menolak vaksin. Terlebih, saat ini, di lapangan masih dijumpai pedagang-pedagang yang belum bersedia diinjeksi vaksin jenis sinovac itu.

“Kalau itu kebijakan dari Pak Wawali, ya monggo, karena kita juga sudah memberikan informasi yang baik dan benar pada seluruh pedagang. Tapi, setiap orang punya pemikirannya sendiri-sendiri. Jadi, itu hak Pemkot untuk memberikan tekanan ya, kepada para pedagang,” tambahnya.

Akan tetapi, ia mengakui, rata-rata pedagang yang menolak vaksin disebabkan oleh kekhawatiran, lantaran mempunyai penyakit bawaan, atau komorbid.

Bintoro menjelaskan, bahwa kewenangan paguyuban sebatas mendata saja, sementara keputusan divaksin atau tidaknya ada di Dinkes.

“Hampir semuanya menyambut baik. Memang ada sebagian yang mempertanyakan karena punya pemyakit bawaan. Jadi, bukan serta merta nggak mau divaksin ya, cuma khawatir saja, karena ada penyakit bawaan, seperti hipertensi, jantung, maupun diabetes melitus,” pungkasnya.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X direncanakan akan menjalani vaksinasi COVID-19 pada 1 Maret 2021 mendatang.

Pelaksanaannya bersamaan dengan penyuntikan vaksin terhadap ribuan pelaku usaha di kawasan Malioboro dan Pasar Beringharjo.

Setelahnya bakal disusul vaksinasi pedagang di pasar-pasar yang ada di DIY serta warga usia lanjut.

“Ya saya ikut kalau ada lansia. Hanya kita belum tahu persis kita nunggu aplikasinya dari pak Menteri Kesehatan,” ujar Sultan kepada wartawa.

Sri Sultan berharap agar masyarakat tak melakukan penolakan terhadap vaksin. Pasalnya, vaksin ditujukan untuk kepentingan bersama. Yakni membentuk imunitas kelompok terhadap penyakit tertentu.

“Karena disuntik vaksin ini untuk menumbuhkan imunitas antibodi pada yang bersangkutan. Jadi bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain,” jelasnya.

Sri Sultan mengungkapkan, warga lansia juga menjadi prioritas penerima vaksin. Sebab, mereka termasuk ke dalam kelompok rentan. Selain itu, kematian akibat Covid-19 juga didominasi oleh warga lansia.

“Makanya lansia itu rata-rata didahulukan karena korban itu sebetulnya makin tua kemungkinan imunitasnya makin turun,”urainya.

Namun, para lansia juga perlu memperhatikan syarat penerima vaksin. Misalnya tidak kesulitan untuk naik 10 anak tangga, memiliki paling sedikit 5 dari 11 penyakit penyerta, dan tidak kelelahan untuk berjalan 100-200 meter.

“Jadi hal-hal seperti itu ada persyaratannya. Jadi kalau kira kira dari 5 atau 6 persyaratan tidak (terpenuhi) ya belum tentu juga akan divaksin karena dengan kondisi itu dengan vaksin membahayakan dirinya,” paparnya,” jelasnya. (Chaidir)

Comments

comments