Terdakwa Kasus Narkoba Divonis Seumur Hidup

Sidang terdakwa kasus kepemilikan 32 kilogram narkotika di Pengadilan Negeri Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin sore (26/10). Majelis hakim menjatuhkan vonis seumur hidup sesuai dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). /Foto : Antara

Acuantoday.com, Banjarmasin- Majelis hakim memvonis seumur hidup kedua terdakwa kasus kepemilikan 32 kilogram narkotika dalam sidang di Pengadilan Negeri Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin sore (26/10).

“Terdakwa SA dan JY terbukti secara sah dan meyakinkan telah bersalah melanggar Pasal 114 ayat 2 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika sehingga dihukum pidana seumur hidup,” kata Ketua Majelis Hakim Mochamad Yuli Hadi membacakan putusan.

Vonis hakim sama dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang sebelumnya juga menuntut kedua terdakwa dengan hukuman pidana penjara seumur hidup.

Kuasa hukum kedua terdakwa Fauzan Ramon menyatakan pikir-pikir. “Masih ada upaya hukum seperti banding hingga kasasi. Semua dikembalikan kepada terdakwa dan keluarganya nanti,” kata Fauzan.

Kedua terdakwa sebelumnya ditangkap Subdit 2 Ditresnarkoba Polda Kalsel pada 18 Januari 2020 di Kota Banjarmasin dengan barang bukti 32.615,48 gram atau lebih kurang 32 kilogram narkotika jenis sabu-sabu dan ekstasi.

Selain jeratan Undang-Undang RI No 35 tahun 2009 tentang Narkotika, penyidik juga menjerat Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) terhadap kedua terdakwa yang masih proses penyidikan di Kepolisian.

Polisi Kurir Narkoba

Sementara itu, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta Pane mengatakan kasus perwira anggota Polri sebagai kurir narkoba yang menyita perhatian bisa dilatarbelakangi banyak hal.

Salah satunya terbelit masalah finansial, sehingga cenderung mengambil jalan singkat. “Sebagai pelampiasannya dari masalah ekonomi yang dihadapi. Tapi ini hanya sebagian,” katanya.

Peluang mendapat untung dari bisnis narkoba, entah menjadi kurir bahkan bandar, menurut Neta bisa menjadi pemicu mengapa polisi ikut terlibat. Ia menduga motif serupa dialami Kompol IZ di Riau, yang ditangkap pada Jumat (23/10), karena membawa narkoba jenis sabu seberat 16 kg.

IZ diduga sebagai kurir, di bawah kendali bandar yang masih buron berinisial HR.

“Dia kan sebagai kurir, ini perlu diselidiki lebih jelas apa alasan kuatnya sampai mau jadi kurir yang kalau dilihat keuntungannya hanya satu tingkat di bawah bandar,” ujarnya.

faktor lain ditengarai karena keberpihakan hukum yang lemah terhadap hukuman polisi yang terjerat kasus narkoba. Alih-alih membikin efek jera, hukuman yang diberikan justru terlihat sangat rendah.

“Polisi jadi tidak takut, karena lihat rekannya yang lebih dulu ditangkap karena narkoba dihukum tidak berat,” tuturnya.

Dilihat dari beberapa tahun belakang, polisi yang dipecat karena kasus narkoba pun tak sedikit. Polri mencatat ada 297 personel polisi yang ketahuan menggunakan narkoba selama tahun 2018. Jumlah ini, naik sekira 2,8 persen dari tahun sebelumnya, yakni 289 aparat.

Sedangkan sepanjang 2020 ini, Polri mengklaim sudah memecat 113 personelnya yang terbukti melakunan pelanggaran berat. Parahnya, mayoritas terjerat kasus narkoba.(har/rwo)

Comments

comments