Tewaskan Tiga Orang, Penyerang di Nice Tak Masuk Daftar Intelijen Prancis

Ilustrasi--Petugas keamanan Prancis bersiaga pasca serangan teror di Nice, Prancis selatan./Foto: Antara

Acuantoday.com, Tunis―Tersangka asal Tunisia, Brahim Aouissaoui, pelaku penyerangan terhadap tiga orang di Kota Nice, Prancis hingga tewas, ternyata tidak masuk dalam daftar terduga milisi oleh Kepolisian Tunisia.

Aouissaoui meninggalkan Tunisia pada 14 September dan tiba di Kota Nice pada Rabu, kata petugas Mohsen Dali.

Tunisia mulai menyelidik kasus Aouissaoui, yang ditangkap Kepolisian Prancis pascaserangan tersebut.

Sebuah sumber di keamanan Tunisia menyebut, pria berusia 21 tahun itu merupakan warga desa Sidi Omar Bouhajla dekat Kairouan, namun akhir-akhir ini tinggal di Sfax. Polisi kini sedang menginterogasi keluarganya di sana.

Sfax, pelabuhan utama sekitar 130 km dari pulau kecil Lampedusa Italia, merupakan titik keberangkatan utama bagi warga Tunisia yang hendak melakukan penyeberangan ilegal dan berbahaya menuju Eropa.

Sumber Kepolisian Prancis menyebutkan Aouissaoui tidak dikenal badan intelijen Prancis.

Pemerintah Prancis sendiri telah meningkatkan status peringatan keamanan di wilayahnya ke level tertinggi setelah adanya aksi teror yang menewaskan tiga orang di Nice.

Pemberlakuan status darurat itu diumumkan oleh Perdana Menteri Prancis Jean Castex pada Kamis.

Castex di hadapan Majelis Nasional Prancis mengatakan pemerintah akan memberi respon yang tegas.

Seorang perempuan dan dua lainnya tewas dalam peristiwa yang diduga dilakukan oleh seseorang pelaku teror di sebuah gereja di Nice, Prancis, Kamis.

Beberapa jam setelah serangan teror di Nice, polisi menembak mati seorang pria yang diduga mengancam pejalan kaki dengan pistol di Montfavet, di dekat Kota Avignon, Prancis.

Menurut stasiun radio Europe 1, dua pelaku menyerukan: “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar, red) saat melakukan aksi teror.

Dalam kesempatan terpisah, sejumlah media memberitakan seorang pria berkebangsaan Arab Saudi telah ditangkap oleh aparat di Kota Jeddah, Arab Saudi, setelah ia menyerang dan menyebabkan seorang penjaga di Kantor Konsulat Prancis, terluka.

Pascainsiden pemenggalan, Wali Kota Nice, Christian Estrosi lewat unggahannya di Twitter mengatakan serangan teror yang terjadi di Gereja Notre Dame itu serupa dengan serangan yang menyebabkan Samuel Paty, seorang guru asal Prancis, tewas pada bulan ini.

Estrosi mengatakan pelaku terus menyerukan kata “Allahu Akbar”, meskipun ia telah ditahan oleh anggota kepolisian.

“Cukup!” kata Estrosi. “Ini waktunya bagi Prancis untuk bertindak tegas demi menghapus aksi fasisme Islam di wilayah kami,” kata dia.

Sejumlah wartawan di lokasi menyebut polisi bersenjata lengkap dengan pistol otomatis berjaga di sekitar gereja, yang berlokasi di pusat perbelanjaan Jean Medecin, Nice. Sejumlah ambulans dan kendaraan pemadam kebakaran juga terlihat siaga di lokasi teror.

Selepas kejadian, sejumlah negara turut menyatakan solidaritas dan menyampaikan dukungan bagi Prancis, salah satunya adalah Inggris.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan ia dan rakyat Inggris akan terus mendukung Prancis.

“Saya terkejut mendengar berita serangan brutal di Nice pagi ini, di Basilika Notre-Dame,” kata PM Johnson lewat unggahannya di Twitter.

“Kami menyampaikan rasa duka cita dan doa untuk para korban serta keluarga mereka, dan Inggris akan terus bersama-sama Prancis melawan aksi teror serta intoleransi,” kata dia. (mad)

Comments

comments