Tidak Bisa Traveling, Coba Tur Virtual

Wisatawan berkunjung ke kawasan wisata Air Terjun Kanto Lampo, Gianyar, Bali, Minggu (4/10/2020). Air terjun Kanto Lampo merupakan salah satu daya tarik pariwisata alam yang terus dikembangkan untuk menarik kunjungan wisatawan ke wilayah Gianyar. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/aww. (ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF)

Acuantoday.com— Masa pandemic Covid 19 seperti sekarang ini menjadi ‘siksaan’ bagi penggemar traveling, hobi mereka berjalan-jalan mengunjungi berbagai objek menarik di berbagai tempat menjadi terbatas. Bahkan tak bisa sama sekali karena tempat-tempat wisata, ditutup. Akses transportasi pun terbatas.

Tapi jangan terlalu kecewa karena ada cara lain untuk sedikit mengobati. Tur virtual. Mungkin ini belum terlalu familiar, tapi sejak masa pandemic Covid 19 mulai banyak yang tertarik melakukan tur virtual. Sambil bersantai di rumah Anda dapat menyaksikan pemandangan dari foto yang tersedia di dunia maya sembari mendengarkan informasi dari pemandu wisata bersertifikasi.

Kegiatan ini bukan hanya menyenangkan namun memberi pengetahuan bagi Anda tentang objek-objek yang Anda niatkan untuk dikunjungi suatu saat nanti.

“Tur virtual jadi media yang ‘memprovokasi’ wisatawan secara digital, juga mendapatkan pengalaman menyenangkan agar wisatawan bisa mendapat informasi dan mendukung keputusan apakah mereka akan ke destinasi itu setelah pandemi usai,” kata Benarivo Triadi Putra, CEO Atourin di konferensi pers virtual, Kamis, sebagaimana  dikutip dari Antara.

Atourin adalah perusahaan teknologi yang menyediakan jasa daring dan luring di sektor pariwisata, termasuk pengembangan konten tur virtual di Indonesia.

Kini Atourin bekerjasama dengan Traveloka dalam membuat tur virtual ke 15 tujuan wisata dari tujuh provinsi di Indonesia, yakni Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua.

Sebelumnya, Atourin pernah bekerjasama dengan Wisata Kreatif Jakarta menggelar tur virtual di Jakarta untuk memperingati ulang tahun ibu kota Indonesia Agustus lalu.

Peminat tur virtual semakin berkembang, kata Rivo. Berdasarkan data Atourin, pada Juli hingga September ada lebih dari 900 wisatawan virtual yang menjelajahi destinasi domestik. “Saat ini kami fokus domestik, kalau nanti ada wisata internasional, kami yakin akan ada sangat banyak peminat,” kata Rivo.

Saat ini para pelancong yang mengikuti tur virtual berasal dari kalangan beragam, mulai dari mahasiswa hingga pekerja usia 20-30an. Ada juga yang menjadi pelanggan setia, selalu mengikuti tur virtual baru yang digelar, imbuh dia.

Berdasarkan jawaban para peserta tur virtual dalam survei Atourin, Rivo menjelaskan wisata lewat gawai ini bukan cuma jadi alternatif liburan, tetapi juga pelepas penat di antara pekerjaan yang menumpuk di rumah.

“Mereka bilang ini menarik, mereka jadi bisa menyegarkan diri di saat kerjaan semakin banyak di saat pandemi, ada dua hingga tiga jam jeda diluangkan untuk wisata virtual.” Dia berharap tur virtual bisa menjangkau lebih banyak orang lewat kerjasama dengan Traveloka.

Tak hanya Traveloka, sebelumnya e-commerce BliBli juga menyediakan layanan wisata virtual baik domestik maupun mancanegara, salah satunya jalan-jalan untuk mengintip kota Seoul, Korea Selatan.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nia Niscaya mengatakan tur virtual memang takkan bisa menggantikan wisata betulan, tapi itu adalah inovasi yang harus didukung dan dikembangkan.

“Kita harus membangun kesadaran bahwa produk ini ada, walau ini tidak bisa menggantikan yang sebenarnya, setidaknya ini jadi pengobat rindu. Mari kita berkolaborasi untuk membangun awareness,” ujar Nia.***nin

Comments

comments