Tiga Tersangka Kebakaran Kejagung Ajukan Saksi Meringangkan

Ilustrasi - Penetapan Tersangka kebakaran. Kabareskrim menetapkan delapan tersangka atas kasus kebakaran gedung utama kejaksaan agung (kejagung)./Foto : Antara

Acuantoday.com, Jakarta- Mabes Polri mengonfirmasi tiga dari sebelas tersangka kebakaran Gedung Kejaksaan Agung (Kejagung) meminta hak hukumnya untuk menghadirkan saksi yang meringankan demi bisa membela diri atas dakwaan.

Ketiga tersangka itu adalah MD, J, dan IS. “Ada haknya tersangka. Dia minta saksi yang meringankan. Saat ini penyidik sedang melakukan pemeriksaan itu,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono dalam jumpa pers di Bareskrim, Selasa (24/11).

Upaya hukum yang diajukan ketiga tersangka ini, kata Awi, akan menjadi materi yang akan dilimpahkan ke kejaksaan untuk kemudian disidangkan. Di dalam persidangan lah, apakah opsi meminta saksi yang meringankan itu bisa memengaruhi putusan hukum bagi tersangka.

“Tentunya nanti akan disusulkan untuk disisipkan di pemberkasan. Nanti kalau sudah lengkap akan dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU),” ujarnya.

Dalam kasus ini, ketiga tersangka berperan dalam menyebabkan kobaran api menjalar cepat dari lantai 6 (awal api menyala) ke seluruh gedung utama Kejagung.

Dimulai dari tersangka MD, yang ternyata berperan penting dalam pengadaan minyak lobi merek Top Cleaner berbahan zat mudah terbakar itu. Hal ini terungkap setalah tersangka awal (R), selaku direktur PT APM yang awalnya diduga memproduksi minyak itu, mengungkapkan bahwa MD yang melaksanakan seluruh kegiatan pengadaan alat pembersih di Kejagung.

“Perusahaan PT APM ini hanya meminjam bendera, sehingga proses pengkajian, kemudian pembelian seluruh alat kebersihan yang digunakan di gedung Kejagung itu yang kemudian menjadi salah satu akseleran dari terbakarnya gedung Kejagung, adalah tersangka MD,” kata Sambo dalam jumpa pers di Bareskrim Polri, Jumat (13/11) lalu.

Dua tersangka lain J dan IS, dikatakan Sambo, berperan dalam pengadaan bahan kedua, selain minyak lobi, yang menjadi akseleran atau pengantar api menjalar cepat. Akseleran itu material dinding gedung di Kejagung, yang ternyata berbahan Alumunium Composite Panel (ACP).

Ide pengadaan berbahan ACP itu tidak didasari pengetahuan yang utuh, karena pada dasarnya model ACP ini terbagi dua, ada yang mudah terbakar dan akan terbakar pada suhu tertentu.

Tersangka IS, yang diketahui sebagai mantan PNS Kejagung ini berperan dalam pemilihan konsultan perencana pembangunan gedung. “IS dalam memilih konsultan perencana tidak sesuai dengan ketentuan, memilih konsultan perencana yang tidak berpengalaman, kemudian tidak melakukan pengecekan bahan bahan yang akan digunakan, khususnya ACP ini,” ungkap Sambo.

Setali tiga uang, tersangka J selaku konsultan dianggap juga tidak memiliki pengetahuan maupun pengalaman terkait penggunaan bahan ACP dalam pembangunan gedung.

“Konsultan perencana yang ditunjuk tidak memiliki perencanaan, tidak memilki pengetahuan tentang ACP, kemudian memililh ACP yang tidak sesuai standar sehingga menyebabkan kebakaran yang merata,” katanya.

Terhadap semua tersangka ini, kepolisian mengenakan sangkaan kelalaian, sebagaimana Pasal 188 KUHP Jo Pasal 55 KUHP dengan ancaman di atas lima tahun penjara. (rwo)

Comments

comments