Tim Kemanusiaan Ungkap Fakta Baru dari Keluarga Pendeta Yeremia

Haris Azhar, Anggota Tim Gabungan Independen Kemanusiaan untuk kasus pembunuhan di Distrik Hitadipa, Intan Jaya, Papua./Foto : Antara

Acuantoday.com, Jakarta- Tim gabungan Independen Kemanusiaan untuk kasus pembunuhan di Distrik Hitadipa, Intan Jaya, Papua, mengungkap fakta baru bahwa kematian Pendeta Yeremia Zanambani pada 19 September lalu, ditengarai karena tembakan aparat TNI.

Tim garapan sejumlah tokoh agama, akademisi, dan aktivis HAM yang ada di Papua tersebut, mengekspos fakta baru ini setelah menyimpulkan beberapa keterangan dari beberapa saksi dan keluarga korban. Hasilnya, seorang anggota TNI bernama Alpius disebut yang menembak Pendeta Yeremia.

“Berdasarkan keterangan saksi dan keluarga, Pendeta Yeremia sempat menyebut bahwa penembaknya merupakan anggota TNI bernama Alpius, yang diakui merupakan anggota yang sering ia bantu dan dianggap sebagai anak,” ungkap Haris Azhar, salah seorang anggota tim dalam keterangan tertulis, Kamis (29/10).

Ketua Lembaga Advokasi Hukum dan HAM, Lokataru, itu pun menyampaikan kekerasan yang diduga dilakukan aparat sudah berlangsung beberapa waktu belakang di Distrik Hitadipa.

Pertama dimulai pada 26 Januari 2020, Alex Kobogau, seorang warga sipil meninggal karena diduga akibat tembakan peluru TNI.

Selanjutnya, pada 20 Februari 2020 di mana dua warga sipil lainnya yakni Kayus Sani (51 tahun), kepala suku Yoparu dan Melki Tipagau (11 tahun), siswa kelas VI SD YPPK Bilogai, Sugapa meninggal diduga tertembak oleh aparat TNI.

“Ini menunjukkan adanya eskalasi kekerasan yang tidak hanya menimbulkan korban dari aparat dan kombatan, tetapi lebih banyak berasal dari masyarakat sipil bahkan beberapa adalah anak-anak,” kata Haris.

Temuan Tim Independen Kemanusiaan ini pun mengafirmasi hasil investigasi TGPF pada 21 Oktober yang menyebutkan oknum aparat ikut terlibat dalam pembunuhan Pendeta Yeremia.

Saat itu, Menko Polhukam Mahfud MD, juga mengatakan ada pihak ketiga yang diduga menjadi pelaku, kendati tidak merujuk pada pihak mana pun.

Peristiwa penembakan Yeremia sendiri bermula dari penyisiran anggota TNI di Distrik Hitadipa pada 19 September lalu. Saat itu, TNI berniat mencari pembunuh Pratu Dwi Akbar Utomo dari Yonif 711/RKS/Brigif 22/OTA, yang disebut dibunuh anggota TPNPB-OPM. TNI menuding warga setempat menyembunyikan pembunuh Pratu Dwi. Namun pada saat bersamaan, Yeremia ditemukan tewas dengan luka tembakan dan senjata tajam.(rwo)

Comments

comments