Tingkat Kepuasan Rakyat Terhadap Pemerintahan Jokowi Naik

Tangkapan Layar Presiden Joko Widodo dalam Perayaan Imlek Nasional Tahun 2021 secara virtual, dipantau di Jakarta, Sabtu (20/2)./Foto: Antara (tangkapan layar Youtube Sekretariat Presiden)

Acuantoday.com, Jakarta  – Tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) periode kedua meningkat.  Demikian hasil survei Y-Publica.

“Di tengah situasi pandemik COVID-19 dan dampak ekonomi yang ditimbulkan-nya, tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Jokowi justru naik,” kata Direktur Eksekutif Y-Publica Rudi Hartono dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Rabu (24/2).

Survei Y-Publica dilakukan pada 5-15 Februari 2021 melibatkan  1.200 orang orang mewakili seluruh provinsi di Indonesia.

Pengumpulan data dilakukan melalui sambungan telepon kepada responden yang dipilih acak dari survei sebelumnya sejak 2018. Margin of error sekitar 2,89 persen, tingkat kepercayaan 95 persen.

Meskipun sempat turun pada survei bulan Juli 2020, tetapi kepuasan kembali naik dan kini mencapai posisi tertinggi.

Pada bulan Maret 2020 kepuasan terhadap Jokowi mencapai 68,7 persen, lalu turun menjadi 67,0 persen pada Juli 2020, dan bergerak naik menjadi 70,5 persen pada Oktober 2020. Kini tingkat kepuasan masyarakat terhadap Jokowi sebesar 71,4 persen.

Sementara itu ketidakpuasan pada bulan Maret 2020 sebesar 27,1 persen, naik menjadi 29,3 persen (Juli 2020), lalu turun lagi menjadi 26,8 persen (Oktober 2020), dan kini 23,8 persen. Responden yang tidak tahu/tidak menjawab saat ini sebanyak 4,8 persen.

Menurut Rudi, memang kepuasan sempat turun pada pertengahan tahun 2020 lalu, ketika COVID-19 sedang naik-naiknya dan ekonomi praktis lumpuh.

Pilihan Jokowi untuk membuka kembali aktivitas ekonomi dengan sejumlah pembatasan berhasil memulihkan kembali tingkat kepuasan masyarakat.

“Jika kita lihat tingkat pertumbuhan ekonomi, penurunan paling dalam terjadi pada kuartal II/2020 yang mencapai minus 5,32 persen, dan terus minus hingga akhir tahun, hingga membawa Indonesia ke jurang resesi,” tutur Rudi.

Tetapi, secara perlahan pertumbuhan negatif tersebut mulai bergerak naik. Pada kuartal III/2020, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi minus 3,49 persen.

Kemudian, naik lagi menjadi minus 2,19 persen pada kuartal IV/2020, sehingga sepanjang tahun 2020 tumbuh minus 2,09 persen.

Sejumlah prediksi menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan keluar dari zona negatif pada 2021, meskipun tidak akan mencapai level sebelum pandemik.

Di sisi lain kurva kasus COVID-19 yang belum melandai dan pembatasan (PPKM) masih menjadi kendala bagi sektor-sektor ekonomi.

“Strategi vaksinasi sebagai game changer menghadapi pandemik dan memulihkan ekonomi masih mengalami tantangan, selain resep omnibus law dan pembentukan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) yang diyakini bisa mendatangkan investasi dan kemudahan berusaha,” tutur Rudi. (Bram/Antara)

 

Comments

comments