Usul Revisi UU ITE Jangan Hanya PHP

Ilustrasi - Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). (Foto : Antara)

Acuantoday.com, Jakarta- Wakil Ketua (Waket) MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) memberi dukungan penuh pada usulan Presiden Joko Widodo alias Jokowi untuk melakukan revisi pada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Hal ini dinilai tepat, karena yang terjadi selama ini sering terjadi salah penerapan pasal atas laporan masyarakat hingga membuat citra Pemerintah negatif.

Menurut politisi yang akrab disapa HNW ini,  revisi UU ITE perlu diakukan agar keadilan hukum bisa dilaksanakan, serta kebebasan berpendapat bagi rakyat tetap terjamin.

“Terutama untuk melontarkan kritikan yang diminta sendiri oleh pemerintah,” kata HNW dalam keterangannya, Rabu (17/2).

Anggota Komisi VIII DPR RI ini mengakui, adanya potensi ancaman kriminaliasi dalam UU ITE, terutama beberapa ketentuan yang bersifat pasal karet, seperti dalam Pasal 27, Pasal 28 dan Pasal 29 UU ITE.

“Ini harus segera ditindaklanjuti secara serius oleh pemerintah, jangan PHP (pemberi harapan palsu) saja,” ucapnya.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini yakin bila pemerintah benar-benar serius, maka proses revisi tidak akan memakan waktu yang lama. Dengan peta politik di DPR seperti itu, seharusnya revisi UU ITE mudah dilakukan dan cepat bisa diputuskan, apabila pihak Presiden Jokowi benar-benar serius.

“Dan tidak sedang bermanuver politik, yang membenarkan kecurigaan bahwa kegaduhan ini semua hanyalah manuver untuk pengalihan isu,” jelasnya.

Anggota DPR dari Dapil Jakarta II ini mengatakan, UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE yang kemudian diubah sebagian dengan UU No 19 Tahun 2016 awalnya dibuat dengan niat dan tujuan yang sangat baik. Ini sesuai dengan namanya terutama dalam mengatur transaksi elektronik dan kepastian hukum cyber.

Namun dalam implementasinya beberapa tahun belakangan ini, sejumlah pasal menjadi aturan yang dikaretkan dan disalah artikan oleh oknum-oknum aparat. HNW menilai, pasal ini cenderung dipakai untuk menjerat hanya mereka yang kritis, mengkritik pemerintah, atau pihak-pihak di luar yang tak disukai oleh pemerintah.

“Dalam tataran implementasi, justru sejumlah ketentuan dalam UU ITE dijadikan alat untuk mudah melaporkan pihak-pihak lain ke polisi,” paparnya.

HNW menuturkan, komitmen ini perlu dibuktikan dengan Presiden Jokowi mempercepat proses revisi ini, yang sesuai UUD bisa dimulai dari inisiatif pemerintah, pihak yang memang juga memiliki kewenangan legislasi bersama DPR.

“Yang perlu ditegaskan adalah kewenangan inisiasi legislasi, termasuk merevisi UU, itu bisa dilakukan oleh DPR atau juga oleh pemerintah,” ujarnya.

Jadi, lanjut dia, kalau Presiden Jokowi serius, mestinya Presiden tidak melempar bola ke DPR untuk merevisinya, tetapi mempergunakan kewenangan konstitusionalnya.

“Yakni segera memerintahkan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) untuk segera mengajukan inisiatif pemerintah mengusulkan revisi UU ITE itu,” pungkasnya. (rht)

Comments

comments