Waduh! Serangan Siber di Indonesia Naik Lima Kali Lipat

Ilustrasi kejahatan siber./Foto: Antara (Pixabay)

Acuantoday.com, Jakarta―Serangan siber di Indonesia mengalami peningkatan lima kali lipat. Bila pada periode Januari―Agustus 2019 terdapat 39.330.231 serangan, maka periode sama tahun 2020 menjadi 189.937.542 serangan.

“Hampir lima kali lipat kenaikannya,” kata Kepala Sub Direktorat Identifikasi Kerentanan dan Penilaian Risiko Infrastruktur Informasi Kritikal Nasional III Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Sigit Kurniawan, di Jakarta, Kamis (24/9).

Sementara untuk kasus data breach (pelanggaran data) sepanjang periode Januari hingga Agustus 2020, terdapat 36.771 akun data yang tercuri, di sejumlah sektor, termasuk sektor keuangan.

Selanjutnya, dilihat dari peta serangan phishing kuartal kedua 2020, Indonesia mengalami serangan phishing sebesar 7,6 persen dari total penduduk atau berada pada level moderate.

Terhadap kondisi siber Indonesia terkait spam dan phising ini, Indonesia pada 2019 menempati urutan ketiga dari 20 negara yang paling banyak terkena spam botnet dengan presentasi 5,8 persen dari total.

Untuk aduan siber pada periode Januari hingga September 2020, sebut Sigit, paling banyak terkait konten negatif dengan jumlah 1048 aduan, diikuti kasus penipuan online sebanyak 649 aduan.

“Data BSSN 2020, memperlihatkan kerentanan dari sektor bank bahwa kerentanan siber terbesar ada pada minimnya security awareness dengan persentase 49 persen,” kata Sigit, seperti dikutip Antara.

Hal ini, menurut Sigit, sejalan dengan data ISM bahwa elemen kunci pada manusia menyumbang 50 persen dibanding elemen proses dan teknologi.

Kabar baiknya, kondisi keamanan siber di Indonesia pada 2020 lebih baik dari tahun lalu.

Berdasarkan data pada penilaian terhadap 76 negara, Indonesia sebelumnya terburuk kedua setelah Algeria. Namun, segera membaik pada 2020, pada peringkat 21, kata Sigit mengutip data dari comparitech, dalam seminar daring “Waspada Kejahatan Pembajakan Kode Rahasia.” 

Adapun aspek yang dinilai, lanjut Sigit, di antaranya persentase serangan malware pengguna di sektor keuangan, persentase komputer yang terkena malware, persentase serang botnet dari daerah asal, persentase serangan cryptominers atau sindikat penambang cryptocurrency atau mata uang digital, kesiapan dari serangan siber, dan kebijakan atau policy.

Kondisi keamanan siber di Indonesia juga membaik menurut data dari ITU mengenai Global Cybersecurity Index yang melakukan penilaian terhadap 194 negara. Pada 2017 Indonesia menempati posisi 70, dan meningkat pada penilaian tahun 2018 dengan berada pada posisi 41. Aspek yang dinilai, antara lain legal, technical, organizational, capacity building dan cooperation.

Sementara itu, penetrasi pengguna internet di Indonesia saat ini sebesar 64 persen.

“Ini menunjukkan bahwa Indonesia menjadi pasar tersendiri, baik yang positif untuk kegiatan dunia maya, maupun menjadi kerawanan tersendiri juga untuk keamanan siber,” Sigit melanjutkan. (ahm)

Comments

comments