Wisatawan ke Yogya, Pemeriksaan Surat Keterangan Tes COVID di Hotel

Kawasan perhotelan di Jalan Pasar Kembang Yogyakarta.(Foto : Chaidir/Acuantoday.com)

Acuantoday.com, Yogyakarta- Pemerintah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemprov DIY) telah memutuskan tidak melakukan pemeriksaan secara ketat di wilayah-wilayah perbatasan terhadap wisatawan yang masuk ke Yogyakarta.

Selain itu juga, tidak ada pemeriksaan surat hasil tes COVID-19, kecuali hanya mengecek suhu tubuh dan memberikan handsanitizer.

Pemprov DIY memiliki strategi tersendiri untuk tetap dapat melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap para wisatawan. Prosedurnya, pemeriksaan surat tes COVID-19 kepada wisatawan cukup dilakukan petugas hotel.

Dari pengecekan koresponden Acuantoday.com di sejumlah penginapan di Yogyakarta, ternyata pihak hotel tidak memberlakukan kebijakan yang ketat kepada para tamunya. Jika tamu tidak memiliki surat hasil tes rapid tetap diperbolehkan, namun protokol kesehatan tetap dilakukan seperti harus menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

“Idealnya memang membawa surat hasil tes rapid. Tapi jika tidak ada, harus tetap menjaga protokol kesehatan,” kata Santi, petugas di bagian Resepsionis Griya Sentana Hotel, Minggu (20/12/2020).

Kawasan perhotelan di Jalan Sosrowijayan sisi barat Malioboro.

Diakui, kebijakan rapid ted COVID-19 berdampak banyaknya tamu hotel yang membatalkan ordernya untuk menginap pada liburan panjang Natal hingga Tahun Baru. Namun demikian, khusus tanggal 24-26 Desember dan 31 Desember – 1 Januari 2021 sudah banyak yang booking kamar.

Sedangkan petugas Resepsionis Hotel Bhinneka, Sisca mengatakan hal serupa dengan Santi. Pihaknya tetap memberlakukan protokol kesehatan bagi para tamu, namun tidak harus membawa surat hasil tes COVID-19.

Mengenai jumlah tamu, diakui tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan tarif kamar hotel selama liburan Natal dan Tahun Baru pihaknya tidak menaikkan.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo mengatakan kebijakan rapid test antigen yang tiba-tiba berdampak signifikan terhadap industri pariwisata di masa pandemi Covid-19. Tingkat reservasi hotel yang awalnya stagnan di angka 42 persen pada periode 25 – 31 Desember 2020, turun menjadi 25 persen lantaran kebijakan rapid test antigen itu.

Ia mengkhawatirkan penurunan atau pembatalan reservasi hotel akan terus terjadi lantaran kewajiban tersebut berlaku mulai 18 Desember 2020 sampai 4 Januari 2021. “Masih ada kemungkinan tingkat okupansi hotel bakal turun lagi karena kebijakan ini mendadak. Semuanya jadi kacau karena membebani wisatawan,” ujarnya.

Rapid test antigen ini menambah biaya yang harus dikeluarkan wisatawan. Bagi pelancong berombongan atau keluarga, ketentuan tersebut tentu memberatkan. Kebijakan itu, menurut dia, juga merugikan pengusaha hotel yang sudah berupaya memenuhi standar Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment (Ramah lingkungan) yang telah ditetapkan pemerintah.

“Bagaimana kami bisa produktif kalau baru jalan saja sudah diganjal kebijakan yang mendadak dan tak populer seperti itu,” ucap Deddy.

Sedangkan Kepala Dinas Pariwisata DI Yogyakarta, Singgih Rahardjo mengakui tidak ada pemeriksaan hasil tes Covid-19 di perbatasan Yogyakarta lantaran banyak jalan atau akses masuk ke Yogyakarta. Menurutnya, lalu lintas orang antarprovinsi dan kabupaten/kota di Yogyakarta dan sekitarnya tidak sama dengan daerah wisata lainnya.

“Berbeda dengan Bali yang pintu masuk wisatawan relatif mudah diketahui, yakni melalui bandara dan pelabuhan, kalau di Yogyakarta ada banyak akses masuk,” kata Singgih.

Menurutnya, pemerintah DIY menganggap pengecekan hasil rapid test antigen atau swab PCR kepada wisatawan di perbatasan tidak efektif.

Dikatakan, pemeriksa hasil tes COVID-19 para wisatawan adalah petugas hotel dan pengelola destinasi wisata. “Kalau hasil rapid test antigen non-reaktif atau hasil tes swab PCR negatif, maka wisatawan boleh menginap atau masuk destinasi wisata,” ujarnya.

Menurutnya, jika wisatawan tidak membekali diri dengan hasil tes COVID-19 atau hasil tes COVID-19 sudah kedaluwarsa, maka mereka akan diminta untuk melakukan rapid test dulu di fasilitas kesehatan di Yogyakarta, baik rumah sakit atau laboratorium.

“Sekarang bukan petugas mengejar-ngejar di perbatasan, tetapi bagaimanan tumbuh kesadaran wisatawan untuk melakukuan itu. Ini demi melindungi mereka sendiri dan orang lain di sekitarnya,” jelas Singgih Raharjo.

Ia juga mengingatkan kepada masyarakat maupun wisawatan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan selama berada di Yogya. Walau berada di lokasi wisata, namun jaga jarak harus tetap dilakukan dengan tak meninggalkan penggunaan masker dan membiasakan kebersihan diri yaitu rajin mencuci tangan. (Chaidir)

Comments

comments