Yogya Krisis Lahan Pembuangan Sampah

Tumpukan sampah di TPS sampah di Jalan Hayam Wuruk Kota Yogya sudah memakan badan jalan.(Foto : Chaidir/Acuantoday.com)

Acuantoday.com Yogya- Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul kini sedang menghadapi masalah pengelolaan sampah. Sampai hari ini, Senin (21/12), di sejumlah tempat terlihat tumpukan sampah yang menggunung lantaran tidak bisa terangkut ke tempat pembuangan sampah akhir di Piyungan Bantul.

Krisis pembuangan sampah di tiga wilayah itu karena semuanya menjadikan Piyungan sebagai pembuangan akhir dari sampah-sampah warganya. Peristiwa ini juga pernah terjadi beberapa tahun silam.

Kemelut di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan seolah tidak kunjung usai. Apalagi setelah Jumat (18/12) hingga Minggu (20/12) warga melarang armada sampah melakukan bongkar sampah.

TPS/Depo sampah di Jalan Baciro Kota Yogya ditutup.(Foto : Chaidir/Acuantoday.com)

Ratusan ton sampah masyarakat sudah tidak bisa diambil oleh jasa pengangkut sampah lantaran tidak ada tempat pembuangannya. Aksi itu sebagai buntut kekecewaan warga terhadap pemerintah lantaran sejumlah aspirasi tidak digubris hingga kini.

“Sejak musim penghujan ini antrean armada pengangkut sampah bisa mencapai 1 kilometer dan bongkar sampah hanya bisa dilakukan didermaga atas itu saja tidak bisa masuk ke tengah,” ujar Koordinator Pemulung TPST Piyungan yang tergabung dalam wadah Mardiko, Maryono.

Selama ini warga sudah berulang kali mengusulkan agar dibuat akses jalan ke tengah area TPST Piyungan. Sehingga armada bisa masuk ke tengah dan tidak mengganggu jalan masyarakat. Tetapi kenyataannya sampai kini bongkar muat sampah hanya dilakukan di tepi jalan, padahal akses tersebut sebenarnya menjadi satu dengan jalan masyarakat.

“Misalnya jalan tersebut khusus untuk armada pengangkut sampah kami tidak mempermasalahkannya. Tetapi karena jalan tersebut juga menjadi akses untuk warga sekitar TPST itu jadi dasar warga keberatan,” ujar Maryono.

Sebelumnya warga juga minta agar jalan diperbaiki, penerangan jalan ditambah. Namun seolah-olah keluhan warga sekitar TPST tidak pernah di respon ataupun ditindaklanjuti dengan sebuah program. “Kalau bongkar sampah belum bisa masuk ke tengah area TPST kami tetap melarang armada masuk TPST,” jelas Maryono.

Dijelaskan, warga tidak bermaksud menghalang-halangi armada pengangkut sampah untuk melakukan bongkar muat. Tetapi keseriusan pemerintah dalam menangani persoalan di TPST yang dipertanyakan.

Ketua Paguyuban Jasa Sampah, ‘Eker-Eker Golek Menir’ Sodik Marwanto mengatakan, jumlah armada anggota kami mencapai 150 unit, jika satu armada dalam sehari satu ton sampah angkanya sudah kelihatan. Padahal sejak Jumat lalu sudah tidak bisa membuang ke TPST.

Dari pantauan koresponden Acuantoday.com, memang mulai terjadi penumpukan sampah di pinggir-pinggir jalan karena tidak terangkut. Bahkan tempat pembuangan sementara (TPS) atau depo sampah yang berada di Jalan Hayam Wuruk Kota Yogya, tumpukan sampah yang sudah menggunung tidak terkendali lagi dan telah menutup sebagian. Sedangkan warga terus membuang sampat di tempat tersebut.

Sedang di TPS sampah di Jalan Baciro diberi pengumuman tidak melayani pengangkutan sampah dan diminta kepada warga untuk menyimpan sampahnya di rumah.

Sodik Marwanto mengatakan, dampak penutupan TPST sampah di masyarakat sudah tidak diambil sejak Jumat. Kalau diambil juga bingung mau di buang kemana. “Jelas saya dan teman-teman mendapat komplain dari pelanggan. Kami bisanya memberikan penjelasan karena TPST memang ditutup,” ujar Sodik.

Sebenarnya pihaknya lelah menyampaikan aspirasinya ke pemerintah. Kenyataannya keluhan yang disampaikan sejak beberapa tahun lalu, mulai jalan, lampu hingga kini belum sepenuhnya direspons. Lokasi pembuangan dengan sampai masuk sebenarnya tidak seimbang. Sehingga umur TPST Piyungan ini tinggal nunggu waktu saja.

Meski TPST Piyungan ditutup, belum ada penumpukan sampah di depo-depo di Kabupaten Sleman. Warga diimbau menyimpan sampahnya terlebih dahulu sebelum diangkut oleh gerobak-gerobak atau penyedia jasa layanan swasta pengangkutan sampah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sleman Dwi Anta Sudibya mengatakan, pola pengangkutan sampah di Sleman menggunakan pola secara tidak langsung. Karena truk-truk dari Pemda tidak keliling sampai rumah warga. Masyarakat menggunakan jasa layanan pengangkut sampah swasta. “Kita sudah pengalaman Piyungan ditutup. Jika ada informasi penutupan, kami share ke pengangkut sampah gerobak-gerobak itu sehingga mereka juga tidak keliling ke warga,” kata Dwi Anta kepada wartawan.

Menurutnya, karena sampah masih belum diangkut sehingga tidak ada penumpukan sampah di depo-depo. Setelah normal baru dikeluarkan dan dibawa ke 13 depo yang ada. Setiap hari ada 200 ton sampah dari Sleman yang dibawa ke Piyungan. Biasanya setelah TPA Piyungan dibuka kembali, 2-3 hari kemudian pengangkutan sampah akan normal kembali. Selain itu
jika Piyungan dibuka kembali, untuk mengurangi sampah-sampah yang sudah menumpuk dari masyarakat, pengangkutan dimaksimalkan hingga 3 rit sehari.

“Rata-rata ada beberapa depo yang ke Piyungan dua kali. Sekarang depo-depo besar seperti di Tambakboyo, Ambarketawang, Nogotirto dan Tridadi sudah dilengkapi dengan dua armada. Sehingga pengangkutan sampah lebih cepat,” ungkap Dwi.

Ditambahkan, saat ini juga ada paguyuban penarik gerobak di tiap depo. Sehingga jika Piyungan bermasalah, ada petugas yang berjaga agar tidak ada orang buang sampah sembarang. (Chaidir)

Comments

comments